PAGI selalu datang lebih cepat bagi Gibran. Ketika sebagian orang masih bergelut dengan mimpi, ia sudah berjalan menyusuri jalan kecil menuju sekolah. Tas lusuh tergantung di pundaknya, berisi buku pelajaran, kapur tulis, dan beberapa lembar kertas yang akan ia gunakan untuk membuat soal latihan bagi murid-muridnya.
Di sekolah kecil tempat ia mengajar, Gibran dikenal sebagai guru yang aktif dan penuh ide. Ia bisa mengubah pelajaran yang sulit menjadi cerita yang menyenangkan. Anak-anak sering menunggu jam pelajarannya dengan wajah cerah, karena mereka tahu kelas Gibran tidak akan pernah membosankan.
Baca Juga
Kadang ia mengajar sambil bercerita. Kadang ia mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari lingkungan sekitar. Baginya pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menyalakan rasa ingin tahu.
Namun di balik semangat itu, hidup Gibran sering terasa seperti roda yang berputar tanpa arah pasti. Sebagai guru honorer, penghasilannya tidak pernah benar-benar cukup. Honor yang kecil sering datang terlambat, bahkan kadang harus menunggu berbulan-bulan.
Meski begitu, Gibran jarang mengeluh. Ia selalu berkata pada dirinya sendiri bahwa ilmu yang ia tanamkan pada anak-anak jauh lebih berharga dari apa pun.
Suatu siang yang panas, ketika Gibran sedang membantu seorang murid memahami soal matematika, operator sekolah memanggilnya dari ruang administrasi.
Baca Juga
“Pak Gibran, sebentar.”
Gibran menghampiri dengan wajah penasaran.
Operator sekolah itu tersenyum tipis sambil menatap layar komputer.
Baca Juga
“Ada kabar baik.”
“Kabar apa, Pak?”
“Nama Bapak masuk daftar penerima insentif dari pemerintah.”
Baca Juga
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.


