Kantamedia.com – Pulau Kalimantan tidak hanya memiliki hutan tropis dan ribuan sungai, tetapi juga menyimpan warisan cerita rakyat yang sarat makna. Salah satunya adalah Legenda Ambun dan Rimbun dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Legenda ini mengisahkan tentang keberanian, kesetiaan, dan kecintaan terhadap keluarga. Berikut ini kisah Ambun dan Rimbun yang dikutip dari buku 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara oleh Marina Asril Reza dan beberapa sumber lain, lengkap dengan pesan moralnya.
Legenda Ambun dan Rimbun
Ambun dan Rimbun adalah sepasang kakak beradik yang memutuskan merantau demi mengubah nasib.
Keduanya menyampaikan niat mereka untuk pergi merantau kepada sang ibu. Mendengar hal itu, sang Ibu hanya terdiam. Ia bingung bagaimana menyikapi keinginan kedua putranya.
“Baiklah, kalau memang kalian bersikukuh akan pergi, Ibu mengizinkan. Tapi Ibu berpesan, kalian harus menghormati orang lain dan jangan berpisah. Kalaupun harus berpisah, hendaknya kalian saling mengabari,” ujar sang Ibu.
“Terima kasih, Bu!” ucap keduanya serentak dengan perasaan gembira.
Dengan hati yang berat, mereka meninggalkan ibu tercinta seorang diri di sebuah kampung terpencil di Kalimantan Tengah.
Sebelum berangkat, sang ibu membekali mereka dua bilah dohong, yaitu keris pusaka warisan mendiang ayah mereka. Keris itu dililit dengan kain yang berbeda.
“Ambun, untukmu dohong dengan kain merah, sebagai lambang keberanian. Rimbun, untukmu dohong dengan kain kuning yang melambangkan kesetiaan. Jagalah, karena di dalamnya ada doa dan restu ayahmu,” kata ibu kepada kedua anaknya.
Rimbun Meninggal Dunia
Perjalanan panjang mereka tak berjalan mulus. Ambun dan Rimbun berjalan mendaki gunung, menuruni lembah, dan menyeberangi sungai. Mereka berjalan mengikuti arah matahari terbenam.
Saat malam tiba, mereka berhenti untuk beristirahat Ketupat dan telur pemberian sang Ibu mereka makan sedikit-sedikit. Ketika matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tidak terasa, sudah berhari-hari mereka berjalan.
Ketika memasuki hari ketujuh, Rimbun mendadak jatuh sakit, karena kelelahan berjalan jauh. Melihat kondisi adiknya itu, Ambun menjadi panik. Ia pun mencoba mengobati adiknya dengan memberinya minuman dari berbagai macam air akar-akaran. Namun, tidak satu pun yang mampu menyembuhkannya.
Tidak terasa air matanya pun bercucuran membasahi pipinya. Ia sangat menyesal dan merasa bersalah karena telah mengizinkan adiknya ikut serta. Beberapa saat kemudian, Rimbun akhirnya meninggal dunia.
Dengan hati yang hancur, Ambun menguburkan jasad adiknya. Dohong milik Rimbun ia tancapkan di bagian kepala makam, sementara kain kuning pembungkusnya dililitkan di nisan sebagai tanda kasih dan kenangan.
“Tidurlah, adikku. Suatu hari aku akan kembali lagi,” ucap Ambun sebelum meninggalkan kuburan adiknya.
Pertemuan dengan Seorang Nenek
Ambun melanjutkan perjalanan seorang diri, menembus hutan lebat. Saat hari menjelang siang, perutnya terasa lapar. Ia pun membuka bungkusan makanannya di bawah sebuah pohon besar dan tinggi.
Hatinya pun mulai cemas. Ia lalu memanjat pohon besar dan tinggi tempatnya berteduh itu. Sesampainya di atas, ia melihat kepulan asap tidak jauh dari tempatnya berada.
Tanpa berpikir panjang, ia segera turun dari atas pohon lalu berjalan menuju ke arah kepulan asap.
Setelah beberapa lama berjalan, terlihatlah sebuah rumah di tengah hutan. Saat menghampiri rumah itu, ia melihat seorang nenek sedang mengumpulkan kayu bakar di samping rumahnya.
Oleh karena merasa kasihan, perempuan tua itu mengizinkan Ambun untuk tinggal bersamanya. Setiap hari Ambun membantunya untuk mencari kayu bakar. Si Nenek pun sangat menyayangi Ambun seperti cucunya sendiri.
Sebagai balas budi, ia membantu sang nenek mengurus rumah. Ambun menimba air, menyiangi kebun, hingga menyalakan api. Kesantunan dan kerajinannya membuat sang nenek begitu menyayanginya.
Suatu hari, sang nenek membuka kisah hidupnya. Ia ternyata berasal dari keluarga Kerajaan Sambaratih, namun diasingkan. Meski demikian, beberapa kerabat kerajaan masih mengirimkan makanan untuknya.
“Aku dulu keluarga Kerajaan Sambaratih. Tapi aku diusir karena menikah dengan rakyat jelata,” ungkap nenek.
Ia diusir karena pernikahannya dengan almarhum suaminya yang berasal dari rakyat biasa.
Meskipun dikucilkan dari istana, nenek malang itu masih mendapat perhatian dari sebagian keluarga istana. Hampir setiap minggu ada pengawal istana yang mengantarkan makanan untuknya.
Sayembara di Istana
Suatu hari, datanglah dua orang utusan dari istana Sang Sambaratih membawa makanan untuk si Nenek.
Sebelum kembali ke istana, kedua utusan tersebut memberitahukan kepadanya bahwa raja akan mengadakan sayembara memetik bunga melati.
Barang siapa yang dapat melompat dari halaman rumah istana sampai ke atap istana untuk mengambil bunga melati, dan menyerahkannya kepada putri raja, maka dia akan dijadikan menantu raja. Akan tetapi jika gagal, maka dia akan mendapat hukuman gantung.
“Raja mengadakan sayembara. Siapa yang mampu melompat dari halaman istana hingga ke atap untuk memetik bunga melati dan memberikannya kepada sang putri, maka akan menjadi menantu raja. Tapi jika gagal, berarti hukuman,” kata sang utusan.
Si Ambun yang mendengar kabar itu, hampir semalaman tidak dapat memejamkam matanya. Ia ingin sekali mengikuti sayembara itu. Keesokan harinya, Ambun menemui si Nenek.
Ambun memutuskan untuk ikut serta. Bersama sang nenek, ia berangkat menuju istana.
Setibanya di halaman istana, penonton sudah penuh sesak dan para peserta sudah bersiap-siap mengikuti sayembara. Peserta sayembara tersebut terdiri dari delapan orang, yaitu tujuh pangeran dari kerajaan bawahan Kerajaan Sang Sambaratih, dan si Ambun sendiri.
Satu per satu pangeran tersebut mengeluarkan kesaktiannya, namun tak seorang pun yang berhasil melompat ke atap istana dan memetik bunga melati.
Saat giliran Ambun memasuki arena sayembara, sorakan ejekan penonton menggema.
Namun, Ambun tetap tenang. Ia berdoa dalam hati, lalu mengambil ancang-ancang. Dengan suara lantang, ia menyebut nama mendiang ayahnya sambil mencabut dohong pusaka dari pinggangnya.
Keajaiban pun terjadi. Ambun melompat dengan ringan, menembus jarak dari halaman hingga atap istana. Ia memetik bunga melati dan menyerahkannya langsung kepada sang putri.
Sorak-sorai rakyat menggema, dan Raja sendiri berdiri memberi tepuk tangan penuh kagum. Tanpa ragu, Raja menikahkan Ambun dengan putrinya dan menyerahkan takhta kepadanya karena usianya yang telah lanjut.
Sementara ketujuh pangeran tersebut merasa tidak puas. Mereka pun menyatakan perang kepada raja Sang Sambaratih. Namun atas bantuan Ambun dengan senjata dohongnya, ketujuh pangeran tersebut dapat dikalahkan.
Akhirnya, Ambun dinikahkan dengan putri raja. Pesta pernikahannya dilangsungkan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam. Seminggu setelah pernikahan mereka, raja Sang Sambaratih menyerahkan kekuasaannya kepada Ambun, karena sudah tua. Sejak dinobatkan menjadi raja, Ambun berusaha mencari ibunya.
Kembalinya Rimbun
Pada suatu hari, Ambun bersama beberapa orang pengawalnya menyusuri jalan yang pernah dilaluinya ketika ia berangkat merantau. Setelah tujuh hari tujuh malam berjalan, ia pun menemukan ibunya. Alangkah bahagianya sang Ibu saat melihat anaknya kembali dan berhasil menjadi raja. Namun, di satu sisi, sang Ibu tetap bersedih karena kehilangan Rimbun anak bungsunya.
Oleh karena tidak ingin melihat ibunya bersedih, Ambun bersama ibu dan para pengawalnya pergi mencari kuburan Rimbun. Setelah menemukan kuburan Rimbun, ibunya meminta Ambun mencari Danum Kaharingan Belom (air kehidupan) untuk menghidupkan kembali adiknya. Ambun segera memerintahkan sebagian pengawalnya untuk menggali kuburan itu, dan memerintahkan sebagian yang lain untuk mencari Danum Kaharingan Belom (air kehidupan) di Bukit Kamiting.
Menjelang sore, pengawal yang diutus ke Bukit Kamiting telah kembali dengan membawa Danun Kaharingan Belom. Ambun segera meneteskan air kehidupan itu ke tulang-tulang adiknya yang sudah terpisah-pisah. Tidak lama kemudian, tulang-tulang itu menyusun diri. Daging dan kulitnya pun kembali seperti semula.
Akhirnya Rimbun hidup lagi. Keluarga Ambun kini telah berkumpul kembali. Setelah itu, Ambun mengajak keluarganya hidup bersama di istana Kerajaan Sang Sambaratih dengan penuh kebahagiaan. (*/pri)
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke redaksi@kantamedia.com disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.






