Palangka Raya, Kantamedia.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah memproyeksikan ekonomi Kalteng sepanjang tahun 2026 akan terus melanjutkan tren positif di kisaran 4,30% hingga 5,30% secara tahunan (year-on-year/yoy). Optimisme ini sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang diprediksi meningkat pada rentang 4,9% sampai 5,7% berkat sinergi kebijakan yang kuat antara Pemerintah dan Bank Indonesia.
Melalui laporan perekonomian terbaru periode Mei 2025 yang dirilis di laman resmi BI dikutip Sabtu (20/6/2026), Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat bauran kebijakan. Kebijakan moneter difokuskan guna membentengi ketahanan eksternal dari gejolak global, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran dirancang untuk memacu pertumbuhan domestik. Melalui strategi ini, target inflasi nasional periode 2026–2027 diharapkan tetap aman dalam sasaran 2,5±1%.
Ekspor dan Konsumsi Jadi Motor Penggerak
Dari sisi permintaan, laju ekonomi Kalteng akan digerakkan oleh sektor konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekspor yang diperkirakan tumbuh lebih kokoh dibanding tahun lalu. Daya beli masyarakat diproyeksikan menguat berkat stimulus ekonomi berupa pelonggaran kebijakan serta intervensi harga yang konsisten dari pemerintah.
Di panggung perdagangan internasional, kinerja ekspor Kalteng juga diprediksi melonjak tajam, ditopang oleh tingginya permintaan pasar global terhadap komoditas batu bara serta minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) beserta produk turunannya.
Optimalisasi Lahan dan Industri Pengolahan
Melihat dari sisi penawaran, Lapangan Usaha (LU) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan diyakini tetap tumbuh positif meskipun dihadapkan pada tantangan cuaca. Geliat sektor ini didorong oleh program strategis seperti cetak sawah baru, optimalisasi lahan rawa, peningkatan produksi Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit, serta membaiknya harga komoditas karet di pasar.
Gairah di sektor hulu tersebut secara otomatis memberikan dampak domino pada sektor hilir. Pertumbuhan pertanian sukses memicu peningkatan kinerja LU Industri Pengolahan melalui lonjakan produksi CPO demi memenuhi kebutuhan energi dan pangan dalam negeri. Dampak positifnya, LU Perdagangan ikut terkerek naik seiring dengan masifnya aktivitas distribusi barang dan bahan baku di seluruh wilayah Kalimantan Tengah.
Pengendalian Inflasi Melalui GPIPS
Di sisi lain, tekanan inflasi di Bumi Tambun Bungai pada tahun 2026 diprakirakan tetap stabil dan terjaga untuk mendukung sasaran inflasi nasional. Guna memastikan stabilitas harga ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus mempererat sinergi lintas sektor.
Langkah konkret di lapangan diwujudkan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Program ini berfokus pada peningkatan produksi komoditas utama pemicu inflasi, intensifikasi panen padi di lahan cetak sawah, optimalisasi lahan rawa, serta berbagai langkah taktis lainnya demi mengamankan pasokan dan menjaga stabilitas harga pangan di masyarakat. (pri)


