IHSG Tertahan, Rupiah Menguat Pasca Rating S&P

Kantamedia.com – Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tantangan pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Bursa saham dan rupiah menguat, sementara harga Surat Berharga Negara (SBN) turun di tengah sentimen global yang masih bergejolak.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup nyaris stagnan setelah sempat melonjak 1,92% pada akhir perdagangan sebelumnya. IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.951,02, namun tidak mampu bertahan hingga penutupan. Nilai transaksi melonjak mencapai Rp16,83 triliun dengan volume 37,59 miliar saham, jauh di atas rata-rata pekan lalu sebesar Rp10,27 triliun.

Pasar masih mencatat net foreign outflow Rp830,34 miliar, sehingga secara year to date tercatat Rp77,42 triliun. Koreksi emiten bank besar menjadi pemberat IHSG, dengan BRI, BCA, dan Bank Mandiri masing-masing menekan indeks lebih dari 7 poin. Sebaliknya, saham konglomerat seperti BRMS, BREN, dan ENRG sempat menopang indeks meski tidak cukup kuat.

Nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,11% ke Rp18.080/US$ setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dinamis dari level psikologis Rp18.100/US$ hingga berbalik positif. Indeks dolar AS (DXY) melemah tipis 0,04% ke 101,197.

S&P menilai pelemahan fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara dan berpotensi membaik seiring kebijakan pemerintah yang lebih efektif. Lembaga tersebut memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di Rp17.700/US$ pada 2026. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut afirmasi rating mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke 7,259% dari 7,184% sehari sebelumnya. Kenaikan yield ini menunjukkan investor mulai melepas obligasi sehingga harga turun. (Mhu).

 

 

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *