Kantamedia.com – Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 25 Juli 2026 mendapat sorotan luas dari media internasional.
Financial Times menulis artikel berjudul “Indonesia central bank chief resigns” yang menekankan bahwa pengunduran diri Perry menambah ketidakpastian atas kebijakan ekonomi di Indonesia. Media tersebut mencatat Perry telah memimpin BI sejak 2018 dan mundur di masa jabatan keduanya. Pengunduran diri ini terjadi setelah periode tekanan terhadap rupiah, yang disebut sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di pasar negara berkembang tahun ini. BI sendiri telah menaikkan suku bunga tiga kali sejak Mei 2026.
Sementara itu, Reuters menyoroti reaksi analis dalam artikel “Analysts reaction to Bank Indonesia Governor Perry Warjiyo stepping down”. Disebutkan bahwa pengunduran diri Perry mengejutkan dan berpotensi membuat investor gelisah, terutama terkait independensi bank sentral.
Ekonom Senior DBS Singapura, Radhika Rao, menilai Perry berperan penting dalam mengarahkan perekonomian Indonesia melewati pandemi COVID-19 dan krisis eksternal, dengan kebijakan terintegrasi yang memberi BI fleksibilitas menjaga stabilitas rupiah, inflasi, kredit, dan sektor keuangan.
Analis ASEAN di Aletheia Capital Singapura, Angus Mackintosh, menambahkan bahwa pengunduran diri Perry kemungkinan diterima negatif oleh pasar mengingat rekam jejaknya yang stabil. Ia menekankan bahwa banyak hal akan bergantung pada siapa yang akan mengambil alih kepemimpinan, dengan Destry Damayanti kini menjabat sebagai Gubernur BI sementara. (Mhu).


