Dalam kesempatan tersebut, Wabup menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran PKK yang selama ini konsisten turun ke lapangan sebagai Ibu Posyandu dan penggerak masyarakat.
“PKK adalah bagian dari TPPS. Harapan saya, selain menggerakkan kegiatan mereka dan Posyandu, PKK juga terlibat aktif dalam penanganan stunting. Ini penting agar Pulang Pisau bisa mencapai zero stunting,” ujar Jayadikarta.
Wabup Jayadikarta juga menyoroti efektivitas Program Natura, yakni intervensi pemberian makanan tambahan selama 45 hari kepada anak-anak stunting dan berisiko stunting. Program ini dinilai memberikan hasil nyata di berbagai wilayah.
Salah satu contoh keberhasilan terlihat di Desa Bakau, Kecamatan Sebangau, yang sebelumnya memiliki angka stunting cukup tinggi. Berdasarkan data TPPS, pada awal pendataan terdapat 19 anak stunting di desa tersebut.
“Alhamdulillah, setelah program Natura 45 hari, angka itu turun menjadi 15, kemudian turun lagi menjadi 4, dan sekarang tinggal 1,” jelasnya.
Dengan capaian tersebut, Jayadikarta optimistis bahwa Desa Bakau dapat menjadi wilayah yang mencapai zero stunting pada 2025–2026.
Wabup menegaskan bahwa upaya menuju zero stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah, melainkan kerja bersama seluruh elemen—termasuk PKK, Posyandu, dan masyarakat.
Ia berharap keberhasilan Desa Bakau menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Pulang Pisau untuk memperkuat kolaborasi dan memperluas intervensi program penanganan stunting.
“Komitmen untuk mencapai zero stunting adalah tanggung jawab bersama. PKK sebagai ujung tombak pemberdayaan keluarga memiliki peran sangat menentukan dalam mewujudkan generasi Pulang Pisau yang sehat dan bebas stunting,” tegasnya. (arw/*)


