Palangka Raya, Kantamedia.com – Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia, dr. Renan Sukmawan, mengungkapkan kondisi serius layanan kardiologi di Kalimantan Tengah. Dari 14 kabupaten/kota, baru lima wilayah memiliki dokter spesialis jantung, sedangkan sembilan kabupaten lainnya masih kosong tenaga ahli.
“Yang sudah terisi dokter jantung itu baru lima. Sisanya, sembilan kabupaten belum punya dokter jantung sama sekali,” ujarnya dalam kegiatan di Palangka Raya, Rabu (10/12/2025).
Ia menilai kesenjangan tersebut sangat berbahaya, terutama bagi penanganan kasus serangan jantung yang memiliki risiko kematian tinggi jika tidak ditangani cepat. “Serangan jantung itu kalau tidak dibuka sumbatannya segera, lebih dari 50 persen bisa meninggal,” tegasnya.
Menurut dr. Renan, keterbatasan tenaga ahli terjadi karena pusat pendidikan spesialis jantung sebelumnya sangat terbatas. Meski kini pemerintah telah memperluas pusat pendidikan, jumlah lulusan belum mencukupi kebutuhan daerah.
Ia menekankan solusi jangka panjang adalah memastikan dokter putra daerah menempuh pendidikan spesialis dan kembali bertugas ke Kalimantan Tengah. “Sekarang 80 persen lulusan sudah kembali ke daerah asal. Itu cara kami memastikan rakyat bisa tertolong di manapun mereka berada,” ujarnya.
Kolegium juga mendorong pemerintah daerah mengirimkan lebih banyak calon dokter spesialis untuk mempercepat pemenuhan tenaga kardiologi di seluruh kabupaten/kota. Langkah ini diharapkan mampu menutup kesenjangan layanan kesehatan dan memperkuat penanganan penyakit jantung di Kalimantan Tengah. (Daw).



