Palangka Raya, Kantamedia.com — Karakter geografis Kalimantan Tengah kembali menjadi tantangan utama dalam percepatan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Desain teknis konstruksi yang belum sepenuhnya menyesuaikan kondisi lahan rawa membuat sejumlah proyek belum bisa dikebut secara optimal.
Koordinator Pengawas Provinsi Kalimantan Tengah PT Agrinas Pangan Nusantara, Aulia Rizky, mengatakan Detail Engineering Design (DED) yang disusun tim pusat masih berorientasi pada tanah keras. “DED pusat belum sepenuhnya mengakomodir karakter lahan rawa di Kalimantan. Saat ini kami masih menggunakan desain yang ada sambil menunggu batch kedua DED yang sudah disesuaikan,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Meski demikian, pembangunan fisik tetap berjalan di lokasi yang memungkinkan. Hingga pertengahan Januari 2026, tercatat 171 titik telah memasuki tahap konstruksi. Kabupaten Lamandau mencatat progres tertinggi sekitar 45 persen karena kondisi tanahnya relatif stabil, disusul Kota Palangka Raya dengan capaian sekitar 40 persen.
“Lamandau bisa lebih cepat karena struktur tanahnya keras, sementara daerah lain masih didominasi rawa sehingga perlu penyesuaian desain fondasi,” jelas Aulia.
Selain faktor lahan, tingginya biaya logistik ke wilayah hulu turut memperlambat ritme pembangunan. Percepatan kini difokuskan pada revisi desain teknis serta optimalisasi distribusi material ke daerah sulit jangkau.
Dengan target 1.542 titik KDKMP sepanjang 2026, keberhasilan program di Kalimantan Tengah sangat bergantung pada kecepatan adaptasi desain konstruksi terhadap kondisi geografis setempat. Tanpa penyesuaian tersebut, progres fisik berisiko tertahan pada tahap perencanaan. (daw).



