Pemerintah Perkuat Deteksi dan Kepatuhan Pengobatan TBC

Palangka Raya, Kantamedia.com – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah menyoroti tantangan serius dalam penanganan Tuberkulosis (TBC), terutama pada aspek penemuan kasus dan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul, menegaskan bahwa keberhasilan penanganan TBC sangat bergantung pada kemampuan menemukan kasus sejak dini. “Tantangan kita itu memang pada penemuan kasus. Kalau kasus kita tidak temukan, kita nggak bisa mengobati. Padahal kalau tidak diobati, dia bisa menulari orang lain,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, penanganan TBC tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan, melainkan juga berkaitan erat dengan kondisi lingkungan, terutama kualitas hunian dan ventilasi. “TBC itu menular pada perumahan yang ventilasinya tidak bagus,” katanya.

Baca juga:  HKN ke-61 di Barito Utara: Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Selain itu, tantangan juga muncul pada proses pengobatan yang membutuhkan waktu panjang hingga enam bulan. Kondisi ini kerap menyebabkan pasien menghentikan pengobatan di tengah jalan. “Risiko orang putus obat itu ada. Kalau berhenti di tengah jalan, bisa terjadi TBC multidrug resistant,” ungkapnya.

Kondisi tersebut dinilai berbahaya karena menyebabkan kuman menjadi kebal obat, sehingga pengobatan menjadi lebih sulit dan membutuhkan prosedur lebih kompleks, termasuk suntikan harian dalam jangka waktu panjang.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mendorong sistem pendamping minum obat guna memastikan pasien menjalani terapi secara disiplin. “Maka saat ini yang kita lakukan adalah mendorong adanya pendamping minum obat,” jelasnya.

Baca juga:  10 Penyakit Paling Mematikan di Dunia, Ada Jantung hingga TBC

Meski program insentif pendamping masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat, pendampingan sudah berjalan melalui kerja sama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Selain itu, penguatan deteksi juga dilakukan melalui pemeriksaan kontak erat pasien serta pemanfaatan teknologi seperti rontgen dan PCR di fasilitas kesehatan.

Dengan berbagai upaya tersebut, Dinkes Kalteng menargetkan penanganan TBC dapat lebih optimal, sekaligus menekan potensi penularan di masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan Kalimantan Tengah bebas TBC. (Daw).

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *