Kantamedia.com – Agama Islam mengintegrasikan seluruh pola kehidupan manusia melalui panduan komprehensif yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan hadis, termasuk perkara adab makan. Larangan mengenai perilaku konsumsi yang berlebihan secara tegas termaktub dalam Surah Al-A’raf ayat 31.
Melalui ayat tersebut, Allah SWT mengingatkan hamba-Nya agar tidak melampaui batas dalam mengonsumsi hidangan demi menjaga kesehatan tubuh dari berbagai macam penyakit.
Sebagai figur sentral pembawa risalah, Nabi Muhammad SAW hadir menjadi representasi ideal dalam mempraktikkan regulasi tersebut, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 21. Oleh karena itu, menerapkan tata cara makan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW merupakan wujud nyata dari pemenuhan sunah bagi setiap Muslim.
Cara Makan Ala Rasulullah
1. Mengawali dengan Basmallah
Membaca bismillah merupakan proteksi spiritual pertama sebelum menyentuh hidangan. Langkah mitigasi ini diajarkan agar keberkahan makanan tetap terjaga sejak awal hingga akhir proses konsumsi.
“Apabila salah seorang dari kalian hendak makan, maka ucapkanlah bismillah. Apabila lupa, maka ucapkanlah ‘Bismillahi Awwalahu wa Aakirohu’ (Dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhir).” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud).
2. Sterilisasi Tangan Sebelum dan Sesudah Makan
Menjaga higienitas merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Rasulullah SAW sangat menekankan kebersihan jemari dari sisa minyak atau lemak daging guna menghindari dampak buruk bagi kesehatan saat beristirahat.
“Barangsiapa yang tidur sementara tangannya dipenuhi bau daging dan dia belum mencucinya, lalu ditimpa oleh sesuatu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
3. Prioritas Menggunakan Tangan Kanan
Penggunaan tangan kanan untuk aktivitas domestik dan personal, termasuk menyantap makanan, merupakan standar operasional yang selalu dibiasakan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
4. Mengondisikan Tubuh dalam Posisi Duduk
Aktivitas makan sangat dilarang dilakukan sembari berdiri, berjalan, ataupun bersandar (ittika’). Para ulama mengidentifikasi ittika’ sebagai posisi condong atau bertumpu pada satu sisi tangan. Nabi SAW lebih memilih posisi duduk bersila atau menegakkan salah satu lutut.
“Aku tidak makan sambil bersandar.” (HR Al-Bukhari).
5. Menyegerakan Hidangan yang Telah Siap
Apabila menu utama sudah tersaji di meja makan bersamaan dengan waktu ibadah sekunder, maka umat Islam dianjurkan untuk menyelesaikan makan malamnya terlebih dahulu tanpa perlu tergesa-gesa.
6. Mengaplikasikan Manajemen Sepertiga Perut
Prinsip pembagian kapasitas lambung secara proporsional menjadi kunci kebugaran fisik ala Nabi, di mana ruang perut dibagi seimbang antara komponen padat, cair, dan udara.
“Tidaklah anak Adam memenuhi tempat yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus (melebihi itu), maka sepertiga untuk makanannya, sepertinya untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
7. Bersuci saat Kondisi Junub
Bagi seorang Muslim yang berada dalam keadaan hadas besar namun ingin segera menyantap makanan, Rasulullah SAW memberikan rujukan untuk melakukan ritual wudu terlebih dahulu sebagaimana wudu sebelum mendirikan salat.
8. Menghargai dan Tidak Mengonfrontasi Makanan
Nabi SAW menunjukkan kedewasaan bersikap dengan tidak pernah melontarkan kritik atau celaan terhadap jenis masakan apa pun. Jika sesuai dengan selera, beliau akan mengonsumsinya, dan jika kurang menyukainya, beliau cukup mendiamkannya.
9. Memaksimalkan Pembersihan Jemari
Sebelum membasuh tangan atau mengusapnya dengan kain penyuci, terdapat anjuran untuk membersihkan sisa makanan yang melekat pada jari-jari tangan dengan cara menjilatnya demi memastikan tidak ada keberkahan makanan yang terbuang.
10. Menutup dengan Ungkapan Syukur
Setelah semua prosesi selesai, Rasulullah SAW menutup aktivitas tersebut dengan memanjatkan doa sebagai bentuk apresiasi kepada Sang Pencipta yang telah memberikan fasilitas pangan dan nikmat iman.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami termasuk golongan orang-orang Islam.”.
(*/pri)


