Kantamedia.com – Dalam sejarah peradaban Islam, jajaran perempuan salehah memegang peranan penting saat mendampingi perjuangan para nabi. Salah satu figur teladan itu adalah sosok istri Nabi Musa, yang dalam khazanah literatur sejarah populer disapa dengan nama Shafura atau Shafuriyya.
Perempuan istimewa ini dikenal luas berkat keagungan budi pekertinya. Sosok istri Nabi Musa ini mencerminkan karakter pemalu, santun, dapat dipercaya, tangguh, serta sangat gigih dalam memelihara kehormatan dirinya.
Bagaimana Istri Nabi Musa AS Bertemu dengan Beliau?
Jalinan takdir yang mempertemukan Nabi Musa AS dengan Shafura berawal ketika sang nabi harus berhijrah meninggalkan tanah Mesir. Saat itu, beliau menjadi target pemburuan penguasa Firaun usai secara tak sengaja menewaskan seorang bawahan Firaun kala membela warga dari golongan Bani Israil.
Menindaklanjuti masukan seorang kerabat mengenai ancaman hukuman mati dari Firaun, Nabi Musa AS memutuskan berangkat menuju wilayah Madyan tanpa membawa bekal materi sedikit pun. Di tempat pengasingan inilah, skenario Allah SWT mempertemukan beliau dengan sosok calon pendamping hidupnya, Shafura.
Setibanya di sebuah mata air di Madyan, Nabi Musa mendapati kerumunan penggembala yang sedang mengantre memberi minum hewan ternak. Di area terpisah, tampak dua perempuan muda tengah berusaha menahan kawanan ternak mereka agar tidak bercampur dengan rombongan penggembala pria.
Momen bersejarah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an melalui Surat Al-Qasas ayat 23:
وَ لَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ
Wa lammaa warada maaa’a Madyana wajada ‘alaihi ummatam minannaasi yasqoona wa wajada min doonihimum ra ataini tazoodaani qaala maa khatubkumaa qaalataa laa nasqee hataa yusdirar ri’aaa’u wa aboonaa shaikhun kabeer
Artinya: “Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, ‘Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?’ Kedua (perempuan) itu menjawab, ‘Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.’”
Akhlak Mulia Shafura, Istri Nabi Musa AS
Salah satu perempuan yang dijumpai Nabi Musa AS di lokasi tersebut adalah Shafura. Bersama saudara perempuannya, ia memikul tanggung jawab menggembala ternak lantaran sang ayah sudah menginjak usia renta. Kendati harus beraktivitas di ruang publik, Shafura tetap memegang teguh norma kesopanan. Ia memilih bersabar menunggu hingga seluruh penggembala laki-laki berlalu dari tempat tersebut.
Melihat kesulitan itu, Nabi Musa AS bergerak cepat memberikan pertolongan. Begitu tugas mengalirkan air selesai, beliau bergegas mencari tempat berteduh seraya memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Tidak lama berselang, Shafura kembali menghampiri Nabi Musa AS atas arahan ayahnya. Al-Qur’an melukiskan bagaimana ia melangkah dengan penuh rasa malu, sebuah pemandangan yang menyimbolkan tingginya kehormatan diri sang wanita.
Ulama tafsir Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa Shafura bahkan menyembunyikan parasnya di balik lengan pakaian sebagai ekspresi rasa malu yang mendalam, meskipun pada masa itu belum berlaku syariat penutupan wajah.
Ketika berjalan beriringan menuju kediaman sang ayah, Nabi Musa AS meminta agar Shafura melangkah di posisi belakang. Langkah ini diambil demi menjaga pandangan mata nabi dari bagian belakang tubuh perempuan. Peristiwa ini memotret betapa keduanya saling menghormati dan menjaga adab pergaulan secara imbang.
Mengapa Shafura Menjadi Istri Nabi Musa AS?
Sesampainya di rumah, setelah mendengar cerita latar belakang Nabi Musa AS, Shafura memberi masukan kepada sang ayah agar mempekerjakan pemuda tersebut.
Ia menyampaikan argumennya sebagaimana terekam dalam kitab suci:
يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Yaaa abatis taajirhu inna khaira manistaajartal qawiyyul ameen
Artinya: “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” (QS. Al-Qasas: 26)
Penilaian Shafura didasari pada pengamatan langsung atas dua kualitas utama Nabi Musa AS: keunggulan fisik saat membantu mengambilkan air ternak, serta integritas moral yang terjaga sepanjang interaksi mereka.
Terkesan oleh keluhuran budi Nabi Musa AS, ayah Shafura lantas menawarkan salah satu putrinya untuk dipinang. Syarat mahar yang ditetapkan adalah kesediaan bekerja menggembala selama delapan hingga sepuluh tahun. Nabi Musa AS menyetujui kesepakatan tersebut hingga akhirnya resmi mempersunting Shafura.
Kesetiaan Shafura Mendampingi Dakwah Nabi Musa AS
Ujian kehidupan bagi Shafura tidak berhenti setelah ikatan pernikahan terjalin. Ketika perintah Allah SWT turun meminta Nabi Musa AS kembali ke tanah Mesir guna menghentikan kedzaliman Firaun, Shafura memilih tidak tinggal aman di Madyan.
Ia memilih terus melangkah mendampingi perjalanan dakwah suaminya, meski menyadari besarnya bahaya yang mengintai. Sejumlah riwayat menceritakan bahwa sepanjang perjalanan berisiko tinggi itu, Shafura tengah mengandung buah hatinya.
Keteguhan hati Shafura membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pendamping di kala lapang, melainkan mitra perjuangan yang setia di tengah terjalnya ujian. Sikap inilah yang mengabadikan nama Shafura sebagai ikon keteladanan perempuan salehah dalam hal keimanan, kesabaran, dan kesetiaan sebagai istri Nabi Musa. (*/pri)


