Kisah Umar bin Abdul Aziz: Padamkan Lampu Negara Demi Urusan Pribadi

Kantamedia.com – Sosok Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam, atau yang dikenal sebagai Umar II, merupakan potret pemimpin legendaris dari kekhalifahan Umayyah yang silsilahnya bermuara pada Qushay bin Kilab, leluhur agung kaum Quraisy. Garis kepemimpinannya tidak hanya menonjol dalam ranah politik, melainkan juga diakui sebagai ulama besar, pakar hadis, dan mujtahid yang berpengetahuan luas. Karakteristik utamanya yang paling membekas dalam sejarah adalah gaya hidup zuhud serta ketatnya prinsip kehati-hatian (wara’) dalam memisahkan urusan personal dengan fasilitas negara.

Integritas tingkat tinggi dari sang khalifah terekam kuat melalui kedisiplinannya menjaga diri dari segala hal yang bersifat syubhat. Mengutip catatan Ali al-Shalabi (2017), ketegasan spiritual ini tecermin saat pemimpin dinasti Umayyah tersebut mendambakan madu untuk dikonsumsi.

Istrinya kemudian berhasil menyajikan semangkuk madu seharga dua dinar yang dibeli melalui bantuan seorang pelayan. Namun, suasana hangat berubah drastis setelah sang khalifah mengetahui bahwa proses pembelian memanfaatkan keledai dinas pengantar surat kerajaan.

Merasa bersalah karena telah mengandalkan akomodasi milik publik, raut wajahnya seketika menegang. “Wahai istriku, mengapa engkau memberikan madu ini kepadaku?” sesal sang pemimpin. Ia lantas memerintahkan agar sisa madu tersebut dijual kembali. Uang modal dua dinar dikembalikan kepada sang istri, sedangkan seluruh margin keuntungannya disetorkan langsung ke baitulmal selaku kas negara.

Ketelitian Umar bin Abdul Aziz juga berlaku dalam urusan gratifikasi. Ia sangat menutup rapat pintu pemberian hadiah karena memahami tipisnya sekat antara hadiah dan suap bagi seorang pemangku kebijakan. Ketika seorang kerabat mengirimkan buah apel segar yang sangat ia inginkan, sang khalifah memilih untuk menolaknya secara halus.

“Sungguh harum dan lezatnya apel ini. Bawa kembali apel itu wahai pelayan, dan ucapkanlah salam kepada orang yang mengirimkannya, lalu katakanlah kepadanya, sesungguhnya hadiahmu telah menempati tempat yang kamu sukai di sisi kami,” pesannya kepada sang pembawa pesan.

Saat ajudannya, ‘Amr bin Muhajir, mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW dahulu selalu berkenan menerima hadiah, sang pemimpin memberikan jawaban yang sangat visioner. “Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya hadiah yang diberikan untuk Nabi Saw. adalah benar-benar hadiah, tetapi hadiah yang diberikan kepada kita adalah suap,” tuturnya tegas.

Implementasi antipenyalahgunaan wewenang ini bahkan diterapkan hingga ke level pemanfaatan energi. Riwayat sejarah mencatat, ia hanya bersedia menyalakan lampu minyak inventaris istana jika sedang menyelesaiakan dokumen kedinasan. Begitu agenda kerja selesai, fasilitas penerangan tersebut segera dipadamkan dan diganti dengan lampu pribadi yang dibeli dari kantongnya sendiri.

Prinsip hidup ketat ini menitipkan pesan mendalam bagi generasi modern bahwa bibit korupsi sering kali tumbuh dari pembiaran atas hal-hal kecil yang dianggap lumrah. “Selain kejujuran, melawan korupsi butuh keberanian untuk menarik garis yang jelas antara hak pribadi dan harta negara, serta menutup segala pintu masuk hadiah,” tutup prinsip moral yang diwariskannya. (*/pri)

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *