Sampit, Kantamedia.com – Upaya mendorong inovasi sejak dini semakin nyata di SDN 4 Ketapang, Sampit, Kalimantan Tengah. Berawal dari pemanfaatan lahan bekas kebakaran, siswa sekolah ini berhasil mengolah bawang dayak menjadi minuman herbal. Inovasi tersebut lahir dari pembelajaran berbasis praktik melalui Program Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI) Trakindo.
Asykuriah, Guru sekaligus Ketua Adiwiyata SDN 4 Ketapang, menjelaskan bahwa inovasi ini berkembang dari proses panjang. “Awalnya kami hanya mengolah secara sederhana, kemudian terus dikembangkan agar lebih praktis dan mudah dikonsumsi,” ujarnya.
Dalam proses pembelajaran, lanjutnya siswa melakukan berbagai percobaan. Dalam beberapa percobaan awal, hasilnya belum sesuai harapan. “Bawang dayak yang seharusnya menjadi serbuk justru berubah seperti dodol. Tapi dari situ anak-anak belajar untuk terus mencoba dan memperbaiki,” tambah Asykuriah.
Pendampingan tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga pada cara belajar siswa. Mereka diajak mengidentifikasi masalah, mencari solusi, dan belajar dari proses. Anak-anak yang semula pasif kini lebih percaya diri, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah. “Awalnya saya sempat takut menjelaskan di depan orang lain. Tapi setelah sering mencoba, sekarang jadi lebih berani,” kata Nafisa, salah satu siswa.
Dukungan terhadap inovasi ini datang dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, hingga Bank Kalteng yang menyediakan ruang produksi dan galeri penjualan. Kolaborasi dengan Puskesmas juga dilakukan untuk mendorong pemanfaatan tanaman herbal di masyarakat.
Firman Apriandi, pendamping Program GENERASI Trakindo, menekankan pentingnya growth mindset. “Bu Asykur tidak berhenti pada satu inovasi, tetapi selalu terbuka untuk mencoba hal baru dan melihat tantangan sebagai peluang. Itu yang membuat inovasi di sekolah ini konsisten,” jelasnya.
Candy Sihombing, Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama, menambahkan bahwa pendekatan ini mendorong pembelajaran kontekstual. “Kami melihat ketika sekolah konsisten mengembangkan cara belajar seperti ini, dampaknya dirasakan tidak hanya oleh siswa, tetapi juga lingkungan sekitar,” ujarnya.
Inovasi bawang dayak di SDN 4 Ketapang kini tidak hanya menjadi bagian dari pembelajaran, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat semangat kewirausahaan sejak dini. (*Mhu).


