Palangka Raya, Kantamedia.com – Warga Kota Palangka Raya kembali dihantui ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Seperti yang terpantau pada Kamis (13/8/2026) pagi hingga malam, kabut asap tipis mulai menyelimuti ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Pantauan di sejumlah jalan protokol menunjukkan aroma menyengat bekas lahan terbakar sudah terasa dan mulai mengganggu aktivitas.
Ketebalan asap diprediksi akan terus meningkat seiring bertambahnya titik api. Hal ini terjadi karena wilayah Kalimantan Tengah telah memasuki puncak musim kemarau.
Munculnya kabut asap memicu kecemasan mendalam bagi warga. Trauma bencana kabut asap hebat pada tahun-tahun sebelumnya membuat masyarakat tak ingin kejadian serupa terulang.
“Saya harap pemerintah cepat bergerak dan bertindak, supaya kabut asap ini tidak semakin parah seperti beberapa tahun yang lalu,” ujar Intan, warga Palangka Raya.
Ia khawatir terhadap dampak buruk kabut asap bagi kesehatan, khususnya penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Karena itu, Intan mengaku sudah kembali mengenakan masker setiap beraktivitas di luar rumah.
“Kita berharap pemerintah segera melakukan penanganan di lahan-lahan yang terbakar serta memperketat pengawasan titik panas atau hotspot. Pengerahan tim pemadam juga perlu dimaksimalkan, baik lewat darat maupun pengeboman air atau water bombing dari udara,” ujarnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya bersama Satgas Karhutla dilaporkan masih terus siaga penuh.
Petugas gabungan rutin melakukan patroli udara dan darat serta berupaya memadamkan kebakaran di sejumlah titik di wilayah pinggiran kota. Upaya ini dilakukan untuk meredam kepungan asap yang mulai menyelimuti Palangka Raya.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan segera melapor jika menemukan titik api.
Dengan kondisi cuaca yang masih kering, pemerintah daerah berharap semua pihak dapat bersinergi agar dampak karhutla tidak meluas dan mengganggu kesehatan serta aktivitas masyarakat.(*/Fay)


