Kantamedia.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan fenomena kemarau di Kalteng masih akan berlangsung hingga Oktober 2026, dengan fase puncak kekeringan melanda mayoritas kabupaten dan kota pada Agustus hingga September. Situasi tersebut memicu eskalasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah, sehingga memaksa Satuan Tugas (Satgas) memperkuat penanggulangan melalui jalur udara.
Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dari Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Neng Arini, mengungkapkan bahwa sebagian besar kabupaten dan kota di Kalteng bakal mengalami puncak kemarau pada Agustus hingga September 2026.
“Diprediksi musim kemarau di Kalteng sampai Oktober, namun untuk puncak musim kemarau sendiri bulan Agustus-September,” ujar Arini, Jumat (28/8/2026).
Menurut Arini, durasi kemarau paling panjang akan dirasakan wilayah selatan Kabupaten Kapuas, selatan Pulang Pisau, serta pesisir selatan Katingan. Kapuas dan Pulang Pisau memang kerap menjadi langganan karhutla lantaran sebagian besar lahannya berupa gambut yang mudah terbakar saat kering.
Ia menambahkan, curah hujan pada Oktober diperkirakan mulai naik dibanding September, yang masih berada pada kategori rendah di seluruh Kalteng. “Jika dilihat dari prediksi curah hujan bulan Oktober, curah hujan diprediksi lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan September, di mana prediksi curah hujannya masih dalam kategori rendah untuk seluruh Kalteng,” tuturnya.
Menanggapi potensi ancaman kekeringan tersebut, pemerintah daerah mengambil langkah cepat untuk menekan penyebaran titik api. Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, menyatakan bahwa intervensi penanganan kini makin intensif dilakukan menggunakan armada udara, mulai dari pemantauan lapangan, pemboman air (water bombing), hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Satgas melakukan pemantauan terhadap 514 hotspot dan patroli udara di 125 titik. Satgas juga melakukan water bombing di Sebangau Kuala dan Petuk Katimpun serta OMC di Kotawaringin Timur dengan penyemaian 1.000 kilogram garam untuk mendukung pemadaman,” jelas Toyib.
Berdasarkan pemetaan data bencana sepanjang tahun 2026, sebaran luasan karhutla tercatat bervariasi di 14 kabupaten/kota. Kabupaten Kotawaringin Timur tercatat sebagai area terdampak paling parah dengan angka kerusakan mencapai 1.766,02 hektare, jauh melampaui daerah lainnya. “Angka ini melonjak tajam dan jauh melampaui daerah lainnya,” kata Toyib.
Daerah dengan luasan karhutla tinggi lainnya adalah Kotawaringin Barat (540,49 hektare), Seruyan (533,91 hektare), Kota Palangka Raya (499,72 hektare), Sukamara (477,68 hektare), Kapuas (412,98 hektare), dan Pulang Pisau (319,88 hektare).
Sementara itu, kategori sedang hingga rendah tercatat di Barito Selatan (237,87 hektare), Katingan (172,87 hektare), Lamandau (154,37 hektare), Gunung Mas (140,97 hektare), Barito Utara (128,17 hektare), dan Murung Raya (104,91 hektare). Adapun Barito Timur mencatat luasan karhutla paling kecil se-Kalteng pada 2026, yakni 38,70 hektare. (*/pri)


