PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Permintaan BBM jenis Pertalite di Kota Palangka Raya mengalami peningkatan di tengah antrean pada sejumlah SPBU. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan penjualan Pertamax yang disebut mengalami penurunan cukup signifikan.
Kepala Satpol PP Kota Palangka Raya, Berlianto mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan langsung ke sejumlah SPBU, peningkatan permintaan Pertalite diduga dipengaruhi adanya perbedaan harga dengan Pertamax.
“Yang pertama terjadi kenaikan permintaan Pertalite. Minat masyarakat terhadap Pertalite ini mungkin karena ada selisih harga dengan Pertamax,” ujar Berlianto, Kamis (13/8/2026).
Ia menyebut perubahan pola konsumsi tersebut terlihat dari penjualan Pertamax. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari SPBU yang didatanginya, penjualan Pertamax yang biasanya berada di kisaran 5.000 hingga 6.000 liter per hari kini hanya sekitar 1.500 hingga 2.000 liter.
“Jadi permintaan Pertamax turun karena banyak masyarakat yang mengisi Pertalite. Mungkin karena adanya selisih harga,” katanya.
Pada saat yang sama, permintaan terhadap barcode untuk pengisian Pertalite juga disebut meningkat. Berlianto mengatakan, mekanisme pengajuan barcode tersebut berada pada BPH Migas dan bukan di SPBU.
Satpol PP juga memantau potensi pengisian BBM secara berulang oleh masyarakat yang diduga untuk dijual kembali. Berlianto mengatakan pihaknya menemukan seorang pengendara sepeda motor yang mengaku telah melakukan pengisian sebanyak empat kali.
Namun, berdasarkan pengamatannya, jumlah tersebut masih dinilai dalam batas toleransi apabila digunakan untuk kebutuhan usaha dengan volume yang relatif kecil.
“Kalau motor paling hanya sekitar 6 liter, berarti empat kali itu sekitar 24 liter. Kalau itu hanya untuk jualan, menurut kita masih dalam batas toleransi,” jelasnya.
Sementara untuk kendaraan roda empat, sistem di SPBU disebut dapat mendeteksi pengisian berulang. Data tersebut dapat menunjukkan apabila kendaraan melakukan pengisian beberapa kali dengan jeda tertentu.
“Kalau mobil, memang dari sistem mereka di SPBU pun bisa terbaca. Misalnya ada yang dua kali mengisi, apalagi sampai tiga kali mengisi,” ujarnya.
Selain peningkatan permintaan Pertalite, operasional SPBU juga menghadapi kendala akibat pemadaman listrik. Berlianto mengatakan, penggunaan genset memiliki keterbatasan sehingga sejumlah SPBU tidak dapat terus beroperasi menggunakan sumber listrik cadangan.
“Genset di SPBU ketahanannya sekitar tiga jam. Bisa empat jam, tetapi mungkin akan berefek pada mesin menjadi panas,” katanya.
Karena itu, SPBU biasanya mengoperasikan genset dalam waktu terbatas dan kemudian menghentikannya untuk menjaga kondisi peralatan. Situasi tersebut dapat membuat pelayanan berhenti sementara meskipun stok BBM masih tersedia.
Berlianto juga mengatakan penambahan jam operasional SPBU belum otomatis menyelesaikan persoalan apabila pasokan BBM belum datang. Berdasarkan pemantauan, sejumlah SPBU bahkan tutup lebih awal karena stok yang tersedia habis dan baru kembali menerima pasokan pada pagi hari.
Ia memastikan pemerintah kota akan terus memantau kondisi tersebut bersama Pertamina. Koordinasi diperlukan untuk memastikan ketersediaan stok sekaligus memperjelas distribusi dan kuota BBM yang diterima masing-masing SPBU.
“Artinya, saya mendapat perintah dari Pak Wali Kota untuk menyampaikan kepada warga masyarakat bahwa sebenarnya stoknya aman. Cuma mungkin mekanismenya yang perlu kita ketahui nanti setelah kita bertemu dengan teman-teman Pertamina,” pungkasnya. (daw)


