Palangka Raya, Kantamedia.com – Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery, turut menyoroti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Kenaikan ini salah satunya dipicu oleh tingginya harga minyak dunia, yang dipengaruhi oleh geopolitik global.
“Kebijakan ini dirasa akan berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat,” kata Khemal, Senin (20/4/2026).
Dikatakan, kenaikan harga BBM ini justru akan memperberat kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terutama dalam menghadapi kenaikan kebutuhan pokok.
Disisi lain ungkap Khemal, kenaikan harga ini dinilai juga berpotensi memicu efek berantai terhadap berbagai sektor. Mulai dari kebutuhan pokok hingga pembangunan daerah.
Sementara dalam konteks luas, dampak lanjutan dari kenaikan BBM hampir tidak terhindarkan, terutama terhadap inflasi daerah. “Harga BBM naik, pasti akan mendorong inflasi. Ini harus kita waspadai bersama,” katanya.
Lebih dalam Khemal menjelaskan, sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, hingga bahan bangunan berpotensi mengalami kenaikan harga. Kondisi ini tidak hanya membebani masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga pelaku usaha di berbagai sektor.
Sedangkan di sektor konstruksi, maka kenaikan harga BBM dipastikan berdampak pada melonjaknya harga material seperti semen, pasir, dan besi. Hal ini dapat mengganggu pelaksanaan proyek pembangunan, khususnya yang telah terikat kontrak dengan pemerintah daerah.
“Kita harus memahami kenaikan BBM ini akan berdampak pada harga bahan bangunan. Artinya, perlu ada penyesuaian dalam pelaksanaan pembangunan,” jelasnya.
Berkaca dari itu Khemal mendorong agar dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kota Palangka Raya mengambil langkah antisipatif. Salah satunya dengan melakukan peninjauan ulang atau adendum terhadap kontrak kerja proyek yang sedang berjalan.
“Terpenting masyarakat tetap tenang. Kita berharap situasi global yang memicu kenaikan harga energi dapat segera membaik,” tandasnya. (*/Fay)


