Kantamedia.com – Proses mendisiplinkan buah hati merupakan bagian krusial dalam pengasuhan. Namun, metode yang keliru saat menegur anak kerap kali justru mengaburkan pesan moral yang ingin disampaikan orang tua, bahkan berpotensi merusak kesehatan emosional dan rasa percaya diri sang anak.
Cara menyampaikan arahan memegang peranan yang sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. Ketika melakukan kekeliruan, anak tidak hanya menyerap kata-kata yang diucapkan, tetapi juga merekam nada suara, raut wajah, serta respons emosional orang tua. Respon spontan yang terlalu keras atau tidak tepat sasaran berisiko membuat anak merasa dipermalukan dan dihujani penilaian negatif, alih-alih memahami letak kesalahannya.
Guna membangun pola komunikasi yang lebih konstruktif dalam keluarga, para ahli pengasuhan mengidentifikasi enam kekeliruan utama yang kerap dilakukan orang tua saat merespons kesalahan anak:
1. Menegur di Depan Umum
Tindakan meluapkan kekesalan atau menegur anak di hadapan banyak orang—seperti di pusat perbelanjaan, sekolah, atau rumah kerabat—dapat memicu rasa malu yang mendalam. Perhatian anak akan terpecah antara rasa takut, malu, dan tekanan lingkungan, sehingga mereka gagal memahami inti teguran.
Kecuali dalam situasi darurat yang mengancam keselamatan fisik, orang tua disarankan membawa anak ke area yang lebih tenang sebelum memberikan penjelasan dengan nada suara yang terkontrol.
2. Menyampaikan Arahan yang Terlalu Abstrak
Instruksi umum seperti “jangan nakal” atau “jangan berantakan” kerap membingungkan bagi anak-anak. Kalimat larangan tersebut tidak memberikan petunjuk konkret mengenai tindakan perbaikan yang harus dilakukan. Mengubah kalimat larangan menjadi instruksi spesifik—seperti mengganti ucapan “jangan berantakan” menjadi “mari letakkan mainan ini di dalam kotak”—jauh lebih efektif dalam mengarahkan perilaku anak.
3. Membandingkan dengan Orang Lain
Menjadikan pencapaian saudara kandung atau teman sebaya sebagai tolok ukur saat menegur anak dapat mengikis kepercayaan diri mereka. Kebiasaan membanding-bandingkan ini mengalihkan fokus dari evaluasi perilaku menjadi penilaian menyeluruh terhadap harga diri anak, yang berisiko memicu rasa rendah diri dan kebencian sosial.
4. Memberikan Sanksi Imbas Emosi Semata
Menjatuhkan hukuman yang terlampau berat atau tidak relevan saat diliputi amarah membuat aturan keluarga menjadi tidak konsisten. Hukuman yang berubah-ubah tergantung suasana hati orang tua membuat anak kesulitan memahami hubungan kausalitas antara tindakan mereka dan konsekuensi logis yang diterima. Konsekuensi idealnya disepakati bersama dalam kondisi tenang dan memiliki keterkaitan langsung dengan tindakan yang perlu diperbaiki.
5. Menyematkan Label Negatif
Penggunaan julukan seperti “malas”, “bandel”, atau “ceroboh” saat menegur anak dapat membentuk persepsi diri yang buruk jangka panjang. Label negatif mengkritik identitas anak secara keseluruhan, bukan perilakunya. Pendekatan yang tepat adalah memisahkan kesalahan tindakan dari kepribadian anak, sehingga mereka memahami bahwa kesalahan merupakan dinamika belajar yang dapat diperbaiki.
6. Mengungkit Kesalahan Masa Lalu
Daftar panjang kesalahan masa lalu yang kembali diungkit saat membicarakan masalah baru akan membuat anak kewalahan dan defensif. Memfokuskan pembicaraan pada satu permasalahan yang sedang terjadi membantu anak menangkap pesan secara jernih serta memberikan ruang bagi mereka untuk bertanggung jawab atas tindakan saat ini.
Pola komunikasi yang tenang, fokus pada perbaikan perilaku, serta penghormatan terhadap martabat anak menjadi kunci utama agar tindakan mendisiplinkan berjalan efektif dan mempererat ikatan emosional dalam keluarga. (*/pri)


