Kantamedia.com – Aktris Kirana Larasati kini tengah berjuang membersihkan rajatan tato dari seluruh tubuhnya. Dari total delapan tato yang pernah menghiasi kulitnya, bintang film tersebut kini hanya menyisakan satu tato terakhir yang masih dalam tahap pembersihan intensif.
Melalui unggahan di akun Threads miliknya dikutip pada Jumat (17/07/2026), perempuan berusia 38 tahun ini membagikan pengalaman beratnya menjalani prosedur medis tersebut. Kirana Larasati mengaku kesulitan menggambarkan rasa sakit yang luar biasa setiap kali gelombang laser membakar tinta di kulitnya.
“Dari total punya 8 tato, sekarang tinggal 1. Itu pun sedang proses dan tintanya warna susah. Jangan tanya sakit enggak lasernya. Kayak disayat-sayat pakai pisau neraka,” tulis Kirana Larasati.
Biaya Selangit dan Harus Disedasi
Selain rasa sakit fisik yang tak tertahankan, proses restorasi kulit ini juga menguras kantongnya secara mendalam. Biaya pembersihan tersebut diklaim mencapai puluhan kali lipat dibandingkan saat proses pembuatan tato dahulu.
Demi mendapatkan hasil maksimal, ia bahkan harus melakoni perawatan lintas negara, memanfaatkan teknologi estetika medis di Indonesia hingga ke Korea Selatan. Durasi pemulihan kulit setelah tindakan pun memerlukan waktu sekitar 10 hingga 15 hari per sesi.
“Mahal? 40-50x lebih mahal hilanginnya. Lasernya berkali-kali. Dari mesin laser dengan teknik di Indonesia sampai di Korea. Per sesi recovery-nya 10-15 hari,” ungkapnya.
Rasa perih yang teramat sangat bahkan membuat dokter harus mengambil tindakan pembiusan total (sedasi) pada beberapa sesi perawatan, terutama untuk menghapus gambar yang berukuran besar.
“Beberapa dalam keadaan sadar dan menjerit menangis, beberapa disedasi karena terlalu sakit dan lama karena ukurannya ada yang besar,” tambahnya.
Mengenai rincian pengeluaran, ia membeberkan bahwa tarif klinik penghapus tato sangat bervariasi. Namun, untuk ukuran tato yang masif dan berwarna, dana yang dikeluarkan menyentuh angka puluhan juta rupiah untuk satu kali kunjungan. Hingga kini, dirinya tercatat sudah menyelesaikan tiga sesi pengobatan di Korea dan lima sesi di Jakarta.
“Hapus tato harganya juga beda-beda tipis. Pokoknya sekali datang 1 sesi (beberapa tato dilaser) minimal Rp 25 juta bill-nya. So far di Korea sudah 3x. Di Jakarta sudah 5x. Mungkin kalau tato kecil dan simple enggak segitu,” jelasnya.
Penyesalan Masa Muda
Di balik keputusan ekstrem ini, ada refleksi mendalam mengenai kedewasaan hidup. Kirana Larasati bercerita bahwa keputusan merajah tubuh saat usia muda dahulu diambil tanpa pertimbangan panjang dan hanya didasari ego pembuktian identitas diri atas masa lalu yang kelam.
Kini, seiring berjalannya waktu dan kematangan cara pandang, ia menyadari kebenaran dari nasihat dan peringatan yang sempat dilontarkan oleh orang tuanya terdahulu.
“Dulu bikin karena as a young adult yang belum mikir panjang, masih berproses, masih mikir ’ini sebagai pengingat hidupku yang pahit, sebagai identitas, sebagai ‘SAYA’. Sekarang pun masih berproses. Tapi arahnya sudah beda. Dulu melihat ke luar. Sekarang melihat ke ‘dalam’,” urainya panjang lebar.
Ia pun menutup ceritanya dengan membenarkan ucapan ibunya yang terbukti di masa sekarang. “Memang bener kata orang tua pas lihat tato pertamaku, ‘Ya Allah, ngapain sih kamu begitu?! Liat saja ntar tuanya nyesel.’ Beneran deh kejadian,” tutup Kirana. (*/pri)


