Kantamedia.com – Pengurangan durasi istirahat malam meski hanya sebentar ternyata membawa dampak nyata bagi kondisi fisik. Penelitian mutakhir mengungkapkan bahwa kebiasaan kurang tidur sekitar 90 menit saban malam berpotensi mendongkrak berat badan sekaligus memperlebar ukuran lingkar pinggang seseorang.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Internal Medicine pada 6 Juli 2026 tersebut mengamati 95 responden dewasa yang memiliki risiko kardiometabolik tinggi. Seluruh partisipan sebelumnya terbiasa memenuhi kebutuhan istirahat setidaknya tujuh jam setiap malam. Dalam eksperimen ini, para sukarelawan menjalani dua tahap pemantauan yang masing-masing berlangsung selama enam pekan.
Pada paruh pertama, para peserta diminta mempertahankan pola rehat seperti biasa. Memasuki fase kedua, alokasi waktu pemulihan tubuh mereka dipangkas sekitar 90 menit tiap malam. Hasilnya cukup mengejutkan; saat masa pembatasan istirahat berakhir, bobot tubuh peserta melonjak rata-rata 0,5 kilogram yang diiringi dengan penambahan ukuran lingkar pinggang.
Laporan yang disiarkan Fox News tersebut juga membeberkan perubahan perilaku responden selama fase kurang tidur. Meskipun porsi aktivitas fisik tingkat sedang hingga berat relatif stabil, waktu yang mereka habiskan untuk duduk atau tidak banyak bergerak tercatat mengalami peningkatan secara signifikan. Meski demikian, para peneliti tidak mendapati pergeseran drastis pada persentase massa lemak maupun otot tubuh. Penyebab pasti kenaikan bobot ini pun belum teridentifikasi sepenuhnya lantaran asupan nutrisi harian peserta tidak terpantau secara ketat.
Mengomentari temuan tersebut, pendiri HerMD sekaligus spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Somi Javaid, menegaskan vitalnya pemenuhan rehat malam bagi pengaturan metabolisme. Menurut praktisi yang tidak terlibat dalam studi ini, fenomena kurang tidur dalam durasi panjang akan mempersulit mekanisme alami tubuh dalam mengontrol bobot ideal. Ia juga menggarisbawahi bahaya bagi kaum perempuan yang memasuki fase menopause, mengingat gangguan lelap sangat krusial dan kerap melanda kelompok ini.
“Tidur memiliki peran yang sangat vital dalam mengatur sistem metabolisme tubuh secara keseluruhan. Ketika kondisi kurang tidur berlangsung dalam jangka panjang, tubuh akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan berat badan ideal,” papar dr. Somi Javaid.
Pentingnya menjaga kuantitas istirahat juga ditegaskan oleh American Heart Association (AHA). Lembaga kesehatan tersebut menempatkan kecukupan istirahat malam ke dalam daftar Life’s Essential 8, yakni delapan pilar utama pemeliharaan jantung sehat. AHA merekomendasikan kelompok dewasa untuk mencukupi waktu istirahat antara tujuh hingga sembilan jam per hari. Javaid memaparkan bahwa masalah kurang tidur kronis semestinya tidak lagi dianggap sekadar gaya hidup yang sepele, melainkan indikator medis vital.
Meski demikian, tim peneliti memberi catatan atas batasan studi ini. Rentang waktu uji coba selama enam minggu dinilai terlalu singkat untuk melihat fluktuasi komposisi massa lemak tubuh, yang umumnya memerlukan periode penyesuaian lebih panjang dibanding pergeseran angka pada timbangan. (*/pri)


