BPOM Ingatkan Penyalahgunaan Tramadol di Kalangan Remaja

Kantamedia.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan potensi penyalahgunaan obat-obatan tertentu, termasuk tramadol, terutama oleh kalangan remaja atau generasi muda. Tramadol sebenarnya digunakan untuk meredakan nyeri sedang hingga berat dan harus dikonsumsi sesuai resep dokter. Namun, penggunaan berlebihan atau tanpa pengawasan medis berisiko menyebabkan ketergantungan hingga gangguan kesehatan berat.

Penyalahgunaan Tramadol dapat menimbulkan berbagai dampak serius, baik secara fisik maupun mental. Penggunaan berlebihan atau tanpa pengawasan medis berisiko menyebabkan ketergantungan hingga gangguan kesehatan berat.

Salah satu kasus penyalahgunaan tramadol yang paling mencuat di antaranya saat obat dijadikan barang bukti penangkapan pesohor Lucinta Luna, hingga seorang penggunanya yang divonis dua tahun dan delapan bulan penjara.

“Tramadol ini sebetulnya adalah obat sejenis penghilang rasa sakit tapi ada efek tambahannya ada efek euphoria, ada efek semangat, ada efek penghilang rasa lelah,” ungkap Kepala BPOM, Taruna Ikrar

Obat tramadol bukanlah obat yang bebas dan hanya dapat digunakan dengan resep dokter. Jika digunakan secara tidak benar, dampak negatifnya dapat muncul.

“Dengan dosis yang berlebihan, akhirnya bisa menyebabkan adiktif atau ketergantungan yang berhubungan dengan psikologi. Kalau ini mengenai usia remaja, anak-anak, ABG (Anak Baru Gede), lama kelamaan dia dosisnya akan bertambah terus dan akhirnya menyebabkan ketergantungan,” jelas Taruna.

Selain efek euforia, konsumsi tramadol dalam dosis tinggi juga dapat memicu halusinasi dan stres.

Dampak negatif dari penyalahgunaan tramadol tidak hanya berhenti di situ; hal ini juga bisa berujung pada tindakan bunuh diri atau mencelakai orang lain. Secara neurologis, penyalahgunaan tramadol dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf serta gangguan sistemik yang berkaitan dengan pencernaan, ginjal, dan liver.

Tramadol berbeda dengan obat pereda nyeri yang dijual bebas. Obat ini bekerja dengan mengubah cara otak Anda mempersepsikan rasa sakit. Secara spesifik, obat ini memengaruhi reseptor opioid di otak dan juga meningkatkan kadar serotonin dan norepinefrin—zat kimia yang membantu mengatur suasana hati dan emosi.

Kombinasi unik ini berarti bahwa tramadol tidak hanya meredakan rasa sakit. Obat ini juga berpotensi mengubah kondisi mental Anda. Bagi sebagian orang, ini bisa bermanfaat. Bagi yang lain, hal ini dapat menyebabkan efek samping emosional dan psikologis yang serius.

Mengonsumsi obat ini dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan perubahan pada kesehatan mental yang terjadi secara perlahan. Beberapa orang mengalami mati rasa emosional—perasaan terputus dari emosi mereka. Yang lain mungkin mulai merasa bergantung pada obat tersebut, bukan hanya untuk menghilangkan rasa sakit tetapi juga untuk menjaga keseimbangan emosional.

Dengan demikian, penting bagi masyarakat untuk menyadari risiko yang terkait dengan penggunaan tramadol tanpa pengawasan medis yang tepat.

Taruna menekankan pentingnya pengaturan terhadap tramadol, mengingat efek negatif yang dapat ditimbulkannya. Ia menyatakan, “Dilihat dari efeknya, maka tramadol memang perlu diatur dan tidak bisa dijual bebas.” Pengawasan terhadap obat ini dilakukan oleh BPOM, mulai dari proses pembuatan hingga distribusinya.

Hal ini bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan tramadol yang dapat merusak anak-anak dan keluarga. Untuk itu, Taruna menggandeng Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) dalam upaya ini.

“Tentu kita mau cegah ini, jangan merusak keluarga merusak masa depan anak-anak kita,” tambahnya.

Taruna juga menegaskan bahwa pengawasan yang ketat dilakukan bersama Kedeputian 4 dan Direktorat Cegah Tangkal, dimulai dari sumber bahan baku tramadol agar tidak disalahgunakan.

Jika ditemukan produsen atau distributor yang melanggar, mereka akan dikenakan sanksi tegas seperti pencabutan izin edar, penarikan obat dari peredaran, bahkan penutupan distributor. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menekan kemungkinan penyalahgunaan tramadol dan melindungi generasi muda dari dampak buruknya. (*/pri)

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *