Kisah yang Salah

Oleh: Diyah Ika Sari

Melalui hari-hari di kantor bersamamu membuat aku semakin bersemangat untuk bekerja. Padahal dulu aku sangat malas untuk menghadapi hari dengan rutinitas yang sama. Tapi entah kenapa setiap kali penyakit malas itu datang, tiba-tiba kamu melintas di otakku dan membuat aku kembali bersemangat untuk bekerja setiap pagi. Aku sangat tidak ingin melewatkan momen-momen bersamamu.

Seperti saat ini. Kamu sudah menunggu kedatanganku di depan mesin absensi. Aku tidak tau jam berapa kamu bangun setiap pagi hanya untuk menungguku datang. Padahal kupikir aku sudah datang terlalu pagi. Ya, aku suka datang pagi. Karena aku tidak mau terjebak macet yang kadang-kadang membuat aku stres.
Keusilanmu menyambut kehadiranku. Kamu menghalang-halangiku untuk scan jari. Itu cukup membuatku kesal. Tapi di sisi lain aku mendapatkan warna di pagi itu. Saat kamu usil, kuakui kamu sangat manis. Terlebih saat kamu suka menunjukkan gigimu yang berbaris rapi di balik mulutmu. Sungguh kamu tambah manis sekali.

“Cantik.” bisikmu.
Aku tersipu. Tapi aku menutupinya. Dan aku yakin saat ini pipiku pasti sudah memerah. Ah, dasar perayu ulung.
“Nuri, kamu cantik.” kamu mengulangi pujianmu padaku.
“Makasih. Kamu itu orang keseribu yang bilang aku cantik.” jawabku singkat menutupi malu. Hei, aku ini memang cantik sejak lahir. Kamu saja yang baru sadar kalau aku itu cantik. Bahkan sangat.
“Minggir. Aku mau absen. Ini sudah siang.” gertakku padamu. Kamu malah semakin bersemangat menghalang-halangiku. Sampai-sampai pak satpam yang pernah kesal dengan ulah kita saat itu tertawa terbahak-bahak. Apa lucunya sih?
“Awas kalau kamu ndak minggir? Aku bisa bunuh kamu.” ancamku.
“Wao??? Sadis..” katamu sambil berlalu.
Aku mulai berpikir kalau kamu ini memang sakit jiwa. Setelah membuat aku darah tinggi karena ulahmu yang kekanak-kanakan itu tiba-tiba kamu berlalu begitu saja tanpa dosa.

Baca juga:  Maling Jadi Polisi

“Selamat pagi Ibu-Ibu yang budiman, saya akan mengganti kabel koneksi internet ya, Bu. Agar pekerjaan Ibu-Ibu semua tidak terganggu karena internet yang putus nyambung kaya lagunya BBB.” teriakmu membuyarkan konsentrasiku dan juga karyawan lain yang sedang sibuk bekerja di ruanganku.

Kamu mulai mengutak-atik kabel komputerku. Kamu buat berantakan. Aku mulai sebal melihat sikapmu itu. Padahal aku sudah bersusah payah merapikannya agar enak dipandang mata, kamu malah membuat kekacauan di sana-sini. Tapi kamu cuek saja.

“Kamu ini apa-apaan, sih? Kenapa cuma tempatku saja yang kamu bikin berantakan. Kan kamu bisa mulai dari meja Bu Sandra yang ada di depan sana kan?” sungutku padamu. Kamu malah cengengesan. Aku bertambah kesal.
“Kalau marah tambah cantik.” rayumu.
Aku memasang muka masam. Walau sebenarnya di dalam hatiku ada rasa aneh yang malah membuatku bahagia.
“Kamu tau ndak sih hari ini aku dikejar deadline. Aku buru-buru menyelesaikan laporan biar aku ndak dimarahi Bu Sandra. Kamu malah kaya tikus aja mengobrak-abrik kabel komputerku dengan alasan koneksi internet. Memangnya internetnya kenapa? Dari dulu sebelum kamu masuk ke sini sampai sekarang ndak pernah ada masalah dengan jaringan internet. Baru kamu yang beralasan kalau koneksi internetnya tidak lancar. Alasan murahan macam apa ini?” aku memarahimu.

Aku mulai darah tinggi dengan ulahmu yang tidak masuk akal. Tapi kamu malah berjongkok mematung di hadapanku dan dengan sabar mendengar umpatanku bagaikan seorang santri yang sedang mendengarkan ceramah ustazahnya. Sejujurnya aku ingin tertawa melihat wajahmu yang polos tapi menyebalkan itu. Tapi aku harus tetap jaim di depanmu agar kamu tetap bisa menilai aku sebagai wanita berwibawa.
“Tenang burung, aku sudah bilang sama Bu Sandra yang cantik tentang masalah internet. Dan aku yakin Bu Sandra yang cantik tidak akan memarahimu karena laporan terlambat dikerjakan.” katamu setengah berbisik.
“Hah? Sejak kapan kamu memanggil aku dengan sebutan burung? Kurang ajar.” protesku sambil mengepalkan tangan.
Kamu tertawa. “Aku senang melihatmu marah.” Aku merengut.

Baca juga:  Ayah, Bolehkah Aku Membeli Waktumu?

Kamu mulai mengutak-atik kabel-kabel yang berserakan. Entah kenapa aku terhipnotis olehmu. Rasanya kedua mata ini tidak mau beralih untuk memandangmu. Kamu itu tidak tampan, sawo matang bahkan mungkin mendekati kematangan. Rambutmu sedikit ikal tapi untungnya hidungmu mancung. Lalu berapa aku harus memberimu nilai untuk fisikmu kalau misalnya aku diberi interval 10-100. Mungkin aku akan memberimu nilai 30 saja. Tapi kalau aku pikir-pikir kamu manis kok. Sangat manis.

“Ngelamun aja nona ini.” celetukmu tiba-tiba. Dan aku baru menyadari kalau aku sempat melamunkan kamu.
“Apa sudah selesai?” aku pura-pura bertanya untuk menghilangkan jejak karena kamu sudah membuat aku sedikit terbuai.
Kamu diam sejenak. Seperti berpikir. “Sepertinya tidak bisa selesai hari ini. Butuh waktu dua hari.” katamu datar.
“What?” pekikku dengan suara meninggi. Spontan semua orang yang ada si ruangan pun menatap aku menyelidik. Aku tersenyum dan memberi isyarat maaf karena sudah mengganggu konsentrasi mereka.
“Santai, non, selow?” katamu tanpa rasa bersalah.
“IT macam apa kamu ini? Hanya membetulkan jaringan saja butuh waktu dua hari. Selama aku bekerja di sini tidak pernah aku temui IT yang lamban kaya kamu. Aku heran kenapa bos bisa menerima kamu bekerja di sini.” ucapku dengan nada marah.
“Karena aku pintar.”
Aku melongo. Kamu pikir kamu pintar? Dalam hal apa? Dalam hal ngeles. Menyebalkan.

Baca juga:  Preman Juga Manusia

“Mau makan siang bersamaku?” tawarmu kemudian.
“Apa? Tiba-tiba saja kamu mengajakku makan siang. Mau nraktir aku? Biar aku ndak marah sama kamu. Sangat menjengkelkan.”
Kamu meringis.

“Nuri? Burung?”
Aku celingukan. Mencari asal suara yang memanggil namaku. Di tempat parkir yang masih sepi itu aku agak merinding sebenarnya. Karena sudah banyak cerita urban legend yang berhembus dari basement itu. Bahwa di setiap sudut ada hantu A, B, C, D, E dan banyak lagi hantu-hantu lain yang kadang usil mengganggu setiap orang yang kebetulan berada di sana.
“Nuri? Burung?”
Hah, hantu wujud apa yang menggangguku sepagi ini. Dan sejak kapan hantu bisa menyebut nama burung. Harapanku sih hantunya ganteng macam artis-artis Holywood gitu. Atau paling ndak yang imut-imut macam casper.

Kali ini bola mataku terhenti di sebuah sudut yang benar-benar dihuni oleh hantu alay. Hantu alay nya berwujud Fito anak sialan yang menyebalkan itu. Di atas motor bututmu, kamu masih juga nongkrong sambil memasang wajah bahagia dan senyum-senyum sendiri melihatku. Aku bergidik. Sangat menjijikkan.

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *