Pria Besar Bertato Mawar

Oleh: Hilmi Faiq

BADANNYA besar. Jalannya sedikit membungkuk. Bila duduk di kerumunan, dua orang terpaksa pindah tempat biar dia muat. Dua minggu sekali harus ganti sandal jepit karena tak kuat menahan bebannya yang setara beras sekarung goni. Orang memanggilnya Luan. Nama panjangnya Lolangluan Batis.

“Sini, tambah lagi sopinya,” kata Luan dengan suara baritonnya yang serak, sembari menarik botol sopi dari tangan Soni Luarmasse.

Soni segera melonggarkan jemari, tak berani melawan, meskipun itu sopi terakhir yang semestinya jadi haknya. Baginya, melawan Luan ibarat becak menentang truk. Soni mewakili becak. Saat mereka sama-sama berdiri, Soni hanya sepundak Luan. Luan bisa jadi merupakan sisa-sisa orang Kepulauan Tanimbar lama yang gigantis. Konon postur tubuh mereka menyusut dari generasi ke generasi lantaran makanan instan minus .

Soni, Mikhael, Alo, dan Nara yang saat itu berkumpul, hafal betul tabiat Luan di kala senja begini. Datang ke Dermaga Omele dan meriung bersama mereka untuk meneguk sopi sambil berkisah tentang apa saja. Entah itu tentang istri mereka yang tak berhenti marah, tentang -ikan yang makin murah harganya, tentang yang selangka mutiara, atau tentang anak-anak yang mengacau di .

Di awal-awal, cerita mereka runtut dan bisa dipahami. Makin sore, cerita makin tak terarah. Kadang bercampur-baur antara cerita Soni dengan Nara atau Alo yang bercerita ulang kisah Mikhael. Pengaruh sopi sungguh luar biasa, efektif mengaburkan fakta. Adapun Luan akan selalu bercerita hal yang sama: tentang diam. Ketika yang lain berbusa-busa menceritakan peristiwa yang dialami dalam sehari, Luan jenak meminum sopi. Kadang sekadar mengangguk-angguk sebagai tanda takzim belaka.

Luan paling senior di antara mereka, juga selalu pasang badan jika ada masalah, sehingga di antara mereka tak ada yang berani mengusiknya. Soni berdiri membeli sopi lagi. Lalu kembali, berbagi. Entah karena pengaruh sopi atau senja yang hangat, Soni tampak mengubah kebiasaan Luan yang diam itu.

“Bu Luan pung akang bagus e… Biking akang di mana?” kata Soni sambil menuding lengan kiri Luan dengan jari telunjuknya sementara empat jari lainnya erat menggengam botol sopi.

Luan tak segera menjawab. Tangan kanannya mengelus-elus lengan kirinya, seperti menyesal membiarkan Soni melihat tato itu.

“Bu Luan cerita akang,” rengek Soni seperti bocah meminta balon.

“Dulu ini gambar mawar kuncup. Begitu badan saya makin melar, tiba-tiba berubah menjadi mawar mekar,” kata Luan dengan nada serius. Tetapi itu tak urung memicu gelak tawa yang mendengarnya.

Melihat reaksi mereka, Luan melengkungkan bibir mencoba ikut tersenyum. Senyuman ganjil. Dingin dan hambar.

Bentuk tato itu tidak persis gambar mawar mekar. Banyak garis putus-putus akibat lemak yang menekan jaringan ikat kulit sehingga menimbulkan lekukan. Selulit. Garis tato yang semula menyambung utuh, kini tampak terberai.

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke redaksi@kantamedia.com disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

TAGGED:
Bagikan berita ini