Pulangnya Sendu (Bagian 1)

Oleh: Mira D. Lazuba

“Tidak ada bidan yang mau datang membantu” ucap Bang Tahir sambil tertunduk.

Emakku buru-buru berjongkong di depan Sendu.

“Sungsang Mak Haji!” teriaknya.

“Ayo Nak, dorong lagi!” perintah Mak Ladi. Kulihat muka Sendu seoalah mayat. Darah mengalir deras di bawahnya. Aku mendekatinya, tak tertahankan air mataku. Sendu menatapku dan tersenyum. Aku dihantam berjuta rasa pilu. Kudekatkan wajahku, ku usap keningnya. Sendu menangis, aku menangis. Ku bisikkan di telinganya,

“Setelah ini, setelah melewati ini, kita akan bergenggaman tangan lagi, meraih mimpi kita bersama. Kali ini kau tidak boleh pergi sendiri, kali ini kau harus mengajakku”.

Baca juga:  Dua Ratus Ribu yang Terasa Berat

Sendu mengangguk. Kugenggam tangannya. Sendu mengejan dengan kuat. Hingga kudengar, “Allahu Akbar!” pekiknya dan tak lama tangisan seorang bayi pecah memenuhi ruangan.

Sendu menatapku lesu, “Tuntun aku…” lirihnya.

Dan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, aku kehilangan dia. Tak sempat aku menanyakan kabarnya, tak sempat aku mendengar kisahnya, secepat itu dia pergi.

Aku menjerit, aku meraung, aku terluka. Aku masih memeluki tubuh dingin Sendu, walau emak berusaha melepaskannya. Aku selalu ingin memeluknya, aku begitu rindu. Aku selalu ingin dia tahu bahwa dialah inspirasi hidupku. Aku selalu ingin dia tahu bahwa aku tak peduli penilaian orang akannya. Belum sempat, aku belum sempat menuntaskan rinduku. (Bersambung)

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

TAGGED:
Bagikan berita ini