Setelah bujukan suaminya, akhirnya Citra mau.
Setelah beberapa meter keluar dari area tempat tinggal mereka, Rahman melajukan mobilnya ke jalan lain. Dan Citra memperhatikan itu dengan seksama. Takut nyasar lagi woy ah!
Hingga tak terasa satu jam perjalanan tak ada kendala, lancar jaya, dalam hati Citra tersenyum senang. Apa sekarang dia sudah jago membaca map?
Sekarang mereka tengah memasuki jalan dimana banyak sekali penjual makanan, membuat Citra ingin melipir untuk membeli camilan. Rahman menyanggupi dan dia menunggu di mobil. Setelah usai, mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Karena memang bakat Citra dalam membaca map sangat payah, maka entah bagaimana tahu-tahu mereka sudah keluar jalur hingga jauh dari tempat tujuan. Mereka nyasar lagi hei! Entah di daerah mana. Citra ingin menangis, menyesal, malu dan marah pada diri sendiri. Dia nggak berguna.
Karena sudah terlanjur bad mood dan waktu sudah sangat siang, otomatis acara pun mungkin sudah selesai, mereka memilih kembali ke rumah dengan modal map lagi.
Karena sudah kalut, mereka berdua sama-sama blunder. Baterai ponsel Rahman habis, ponsel Citra tidak ada sinyal.
Dengan inisiatif, Citra menyuruh suaminya untuk berhenti. Ia ingin bertanya kepada warga disini. Dan berhasil! Mereka diberikan petunjuk bahwa untuk menuju jalan raya mereka cukup lurus hingga nanti menemukan pertigaan, belok kanan, lurus hingga 3 km jalan raya ada di depan mata.
Citra memekik senang sedangkan Rahman mendelik kesal. Eksistensinya tersentil dengan jawaban si warga layaknya pahlawan di tengah gencatan senjata. Dia hanya debu, harga dirinya terinjak-injak.
“Alhamdulillah, untung aku tanya si Bapak tadi ya, A!” Pekiknya senang. Hingga Citra melupakan siapa yang tadi membuat mereka menyasar hingga ke pertengahan kampung seperti ini.
—
Pagi ini, Citra dipusingkan dengan suara Suaminya yang mencari-cari ikat pinggang dan kaus kaki. Sedangkan Citra sedang membuat sarapan di dapur itu dibuat jengkel, asli.
“Yang? Liat ikat pinggangku nggak? Dimana ya?” Tanya Rahman sambil mengobrak-abrik laci tempat dasi dan kaus kaki.
“Kaus kaki juga dimana?” Suara teriakan Rahman dari lantai dua membuat Citra menghembuskan nafas jengkel.
“Dasar laki-laki!” Umpatnya mengeram kesal. Ia terpaksa mematikan kompor kemudian berlalu ke kamarnya.
Dari daun pintu Citra memperhatikan suaminya yang hanya mencari di satu titik. Sedangkan ikat pinggang dan kaus kaki sudah Citra letakkan di atas nakas. Bisakah matanya memindai seluruh ruangan? Kenapa harus mentok di situ-situ aja?
“Dimana?” Tanya Rahman frustasi. Wajah yang tampan itu nyaris tak berkarisma karena kini wajahnya sudah cemberut karena lelah mencari apa yang ia cari. Masih pagi loh ini! Bukannya muka segar malah sepat.
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.


