Suami vs Istri

Oleh: Latifah Nurul Fauziah

Di kantor pun Rahman mengeluh tentang kejadian nyasar kemarin. Misuh-misuh soal istrinya yang merasa bangga karena menanyai orang hingga mereka bisa kembali. Lawan bicara Rahman sama terkekeh. Ia memberikan sebuah video yang sama kepada Rahman untuk ia tonton dan dengarkan bersama istrinya. Dengan malas, Rahman mengiyakan, dan setelah Shalat isya dia berniat mengajak istrinya untuk menonton bersama.

“Yang sini.” Panggil Rahman melambaikan tangan membuat Citra mendekat.
“Kenapa A?”
“Kita nonton video yuk! Penting buat kita.”
“Video apaan?” Rahman menunjukkan video di ponselnya.

“Ih sama!” Citra memekik kemudian menunjukkan juga video di ponselnya. Ia memang sama.
“Dari siapa?” Tanya Rahman.
“Dari anggi.”
“Aku dari suaminya Anggi.”
Citra melongo. “Euhh mereka sekongkol.”

Tanpa pikir panjang, mereka memutar video tersebut. Ketika menit berlalu, mereka ikut tertawa karena Narasumber begitu mampu mengundang gelak tawa. Membuat Citra dan Rahman terbahak hingga perut mereka sakit. Rahman merangkul istrinya dengan erat, dan otomatis Citra menyandarkan kepalanya di dada bidang suami.

Baca juga:  Ayah, Bolehkah Aku Membeli Waktumu?

Hingga video berakhir, barulah mereka ber-oh ria.

Isi videonya betul-betul sama dengan kehidupan mereka saat ini. Perbedaan otak laki-laki dan perempuan begitu nyata mereka alami tadi pagi juga. Bahkan setiap hari sebelumnya.

Rahman tidak bisa menemukan kaus kaki dan ikat pinggang karena mata pria hanya memandang lurus, sedangkan perempuan ke mana-mana dalam artian mata mereka tajam melihat setiap sesuatu.

Soal kejadian kemarin bahkan dahulu, ketika Citra tidak mampu membaca peta ternyata akibat dari ketebalan otak bagian tengah membuat para perempuan bisa melakukan berbagai pekerjaan dalam satu waktu alias multitasking. Tapi dampaknya, mereka kesulitan untuk membaca petunjuk jalan.

Begitu juga perempuan sulit membedakan mana tangan kanan dan tangan kiri.

Pantesan, kemarin ketika berangkat kerja, Rahman melihat seorang ibu-ibu membawa motor. Lampunya ke kanan, tapi dia malah belok kiri. Ternyata itu alasannya toh! Rahman baru tahu, begitu pun dengan Citra. Bukan hanya soal kemarin, berarti selama ini, soal dia salah membaca petunjuk memang fitrah perempuan dari lahir kan? Artinya, Citra memang benar-benar perempuan asli. Bukan setengah-setengah. Kalau ada perempuan yang jago baca petunjuk jalan berarti mereka bukan perempuan asli dong? Ya enggak gitu juga, bisa jadi mereka belajar sungguh-sungguh untuk membaca petunjuk jalan, iya kan?

Baca juga:  Maling Jadi Polisi

Masih ada lagi, ketika Citra berhasil bertanya pada salah satu warga soal jalan pulang ke kota, bukannya senang, Rahman malah mendelik kesal.

Pasalnya, lelaki itu pantang sekali ketika sedang mencari jalan dia bertanya pada orang. Kecuali, suami sendiri yang menyuruh. Dan Citra melakukan kesalahan, Citra bertanya pada salah satu warga. Padahal lelaki merasa kalau itu sudah membuat harga dirinya jatuh jauh di bawah si Bapak yang ditanya. Dan begitulah Rahman kemarin.

Setelah menonton video itu, mereka saling menatap sambil terkikik. Selama ini mereka selalu bersitegang dengan banyak hal. Rahman mengeluh dengan istrinya yang cerewet. Tapi selalu takjub karena bisa melakukan banyak hal di pagi hari. Alias multitasking.

Baca juga:  Preman Juga Manusia

Begitu pula Citra sering mengeluh dengan Rahman yang irit perhatian, minim bicara dan tidak pandai mengerti kebutuhan istri. Ternyata itu fitrah semua. Mereka selalu bertengkar bahkan karena takdir yang telah Allah tetapkan untuk pria dan wanita. Mereka jadi malu sendiri.

Setelah ini mereka sepakat, tak baik lah mempermasalahkan suatu hal yang sudah mereka ketahui apa alasannya.

Kenapa ini dan kenapa itu? Jawabannya ada pada video itu. Citra jadi tertarik untuk terus mendengarkan Narasumber video dengan mencari berbagai video yang lain di youtube demi menghindari percekcokan di rumah tangga mereka yang baru berumur satu tahun. (*)


 

Disclaimer

(Cerpen Karangan Latifah Nurul Fauziah ini telah dipublikasikan di situs Cerpenmu)

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *