Kantamediacom – Peta kekayaan para taipan Indonesia kembali diperbarui memasuki Mei 2026. Meski gejolak pasar saham dan fluktuasi harga komoditas global turut mengoreksi nilai aset sejumlah pengusaha besar Tanah Air, deretan konglomerat lama tetap kokoh menghuni posisi puncak daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
Prajogo Pangestu, pemilik Barito Group, masih memegang gelar sebagai orang terkaya nomor satu di Indonesia. Predikat itu bertahan meski saham-saham perusahaan afiliasinya sempat tertekan dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan catatan Forbes, kekayaan Prajogo saat ini ditaksir mencapai US$20,9 miliar atau setara Rp372 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.832 per dolar Amerika Serikat.
Di posisi kedua, pengusaha tambang batu bara Low Tuck Kwong tetap bertahan di jajaran elite dengan kekayaan sebesar US$16,5 miliar. Fondasi bisnisnya masih ditopang sektor batu bara yang beberapa tahun terakhir sempat menikmati masa keemasan lewat lonjakan harga komoditas atau supercycle.
Sementara itu, sektor perbankan dan industri rokok tetap menjadi andalan keluarga Hartono untuk mempertahankan posisi di papan atas. R. Budi Hartono menempati urutan ketiga, disusul sang adik, Michael Hartono, di posisi keempat. Kekayaan keduanya bersumber dari kombinasi bisnis perbankan dan rokok yang telah lama menjadi tulang punggung kerajaan bisnis keluarga tersebut.
Di luar nama-nama lawas, satu sosok pengusaha perempuan turut mencuri perhatian. Mariana Budiman berhasil mempertahankan posisinya di jajaran 10 besar berkat ekspansi bisnis pusat data (data center) yang tumbuh pesat seiring meningkatnya kebutuhan digitalisasi dan layanan cloud di Indonesia.
Berikut daftar lengkap 10 orang terkaya Indonesia per Mei 2026 versi Forbes:
- Prajogo Pangestu — US$20,9 miliar (petrokimia, energi)
- Low Tuck Kwong — US$16,5 miliar (batu bara)
- R. Budi Hartono — US$15,8 miliar (perbankan, rokok)
- Michael Hartono — sekitar US$15 miliar (perbankan, rokok)
- Anthoni Salim — sekitar US$11,9 miliar (diversifikasi usaha)
- Tahir & keluarga — sekitar US$9,7 miliar (rumah sakit, keuangan)
- Sri Prakash Lohia — sekitar US$8,8 miliar (petrokimia)
- Mariana Budiman — sekitar US$6 miliar (pusat data)
- Lim Hariyanto Wijaya Sarwono — sekitar US$5,3 miliar (sawit, nikel, tambang)
- Haryanto Tjiptodiharjo — sekitar US$5 miliar (manufaktur)
Secara umum, sektor energi, perbankan, dan pertambangan masih menjadi mesin utama penopang kekayaan para taipan nasional, kendati koreksi pasar saham sepanjang tahun berjalan turut memberi tekanan pada nilai kekayaan sejumlah pengusaha besar di dalam negeri. (*/pri)


