Harga Avtur Menggila, Wings Air dan Garuda Tutup Rute Sepi

Kantamedia.com – Lonjakan drastis harga avtur yang mencapai rentang 70 hingga 80 persen mulai menekan operasional maskapai nasional. Kondisi ini memaksa perusahaan penerbangan bersikap lebih selektif dalam mempertahankan rute penerbangan guna menghindari kerugian berkelanjutan akibat pembengkakan biaya operasional.

Sejumlah maskapai mulai menyaring rute dengan tingkat keterisian penumpang tinggi dan menghentikan layanan pada jalur sepi. Salah satunya dilakukan Wings Air yang menutup rute Bandung–Yogyakarta, meski baru beroperasi sejak 11 Februari 2026. Rute tersebut dilayani pesawat ATR 72-500 dengan jadwal penerbangan harian, namun akhirnya dihentikan usai periode arus balik Lebaran 2026.

Langkah serupa diambil PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang menutup permanen jalur Jakarta–Bengkulu per 28 Maret 2026. Keputusan ini disebut bukan bagian dari strategi pengalihan ke anak usaha, melainkan murni pertimbangan bisnis akibat rendahnya jumlah penumpang.

Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, mengonfirmasi bahwa rendahnya tingkat keterisian penumpang (load factor) menjadi alasan utama kebijakan tersebut. Pihak manajemen Garuda Indonesia menyatakan bahwa okupansi yang tidak optimal di jalur tersebut berisiko membebani keuangan perusahaan secara jangka panjang.

Sebagai catatan, biaya avtur, suku cadang, dan perawatan pesawat menjadi komponen utama yang memengaruhi harga tiket penerbangan domestik. Khusus avtur, kontribusinya mencapai 30–40 persen terhadap total biaya operasional.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa evaluasi jaringan merupakan praktik bisnis yang wajar di industri penerbangan global. Menurutnya, penyesuaian dilakukan agar utilisasi armada tetap optimal di tengah tekanan harga bahan bakar.

Berdasarkan data Pertamina periode 1–30 April 2026, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta melambung dari Rp13.656 menjadi Rp23.551 per liter, atau naik sebesar 72,45 persen. Sementara itu, harga bahan bakar untuk penerbangan internasional bahkan melonjak hingga 80,32 persen. Mengingat avtur berkontribusi sekitar 30 hingga 40 persen terhadap total biaya operasional, kenaikan ini berdampak langsung pada kalkulasi profitabilitas setiap rute.

Kemenhub menegaskan bahwa penutupan rute sepi penumpang merupakan bagian dari tata kelola bisnis yang sehat. Maskapai cenderung memindahkan unit pesawat ke jalur “gemuk” yang memiliki potensi pendapatan lebih stabil. Strategi ini diambil untuk menjaga keberlanjutan industri transportasi udara nasional di tengah fluktuasi harga energi dunia yang kian tidak menentu. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *