PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Pemerintah Kota Palangka Raya menjadikan kualitas udara sebagai salah satu indikator utama dalam menentukan keberlanjutan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan keputusan mengenai PJJ tidak ditetapkan secara permanen, melainkan menyesuaikan kondisi harian di masing-masing wilayah. Indikator yang digunakan antara lain indeks standar pencemar udara (ISPU), kualitas udara, jarak pandang dan kondisi karhutla.
“Kita indikatornya tadi dashboard, ISPU, kualitas udara, jarak pandang, dan lain-lain,” kata Fairid, Kamis (3/9/2026).
Ia menyebut ISPU di Palangka Raya sempat mencapai angka 303. Sementara berdasarkan pemantauan terbaru, kondisi tersebut mulai menurun.
Fairid mengatakan dirinya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk melakukan rapat koordinasi dengan sekolah, khususnya para kepala sekolah, sebelum menentukan apakah PJJ perlu dilanjutkan.
Menurutnya, kebijakan tersebut bukan bentuk meliburkan siswa, tetapi mengalihkan proses pembelajaran ke jarak jauh ketika kondisi udara dinilai belum aman.
“Kalau tidak PJJ ya bukan meliburkan, tapi PJJ. Itu sesuai dengan kondisi masing-masing daerah,” ujarnya.
Selain persoalan kualitas udara, Pemkot Palangka Raya juga memperketat pengawasan terhadap keselamatan relawan yang terlibat dalam penanganan karhutla.
Fairid mengatakan setiap pagi sebelum relawan turun ke lapangan, dilakukan apel, briefing dan pemeriksaan kesehatan. Ketentuan tersebut kini diwajibkan bagi seluruh personel.
“Setiap pagi itu kan di posko ada apel dulu sebelum mulai briefing, cek kesehatan. Jadi diwajibkan,” katanya.
Kebijakan tersebut diperkuat setelah sebelumnya terdapat relawan yang mengalami gangguan kesehatan dan harus mendapatkan perawatan. Fairid memastikan kondisi relawan tersebut telah ditangani dan yang bersangkutan untuk sementara tidak kembali ke lapangan.
Terkait warga yang terdampak langsung dan harus meninggalkan rumah, Pemkot Palangka Raya juga memiliki rumah singgah melalui Dinas Sosial.
Fairid menyebut warga yang dievakuasi dapat ditempatkan di rumah singgah dan mendapatkan penanganan kesehatan. Apabila diperlukan, warga dapat dirujuk dari puskesmas ke rumah sakit.
“Evakuasi ada, yang anak-anak dan lansia,” ujar narasumber.
Sementara itu, wilayah dengan luasan lahan terbakar yang cukup besar disebut berada di Kecamatan Jekan Raya, khususnya Kelurahan Menteng dan Bukit Tunggal. Penanganan memperhitungkan bukan hanya luas lahan terbakar, tetapi juga kepadatan penduduk di sekitar lokasi.
Kondisi kebakaran disebut mulai mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Pada periode terparah, jumlah titik api dilaporkan mencapai sekitar 1.200 hingga 1.300 titik per hari. Dalam perkembangan terakhir, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 528 titik.
Meski demikian, penurunan tersebut belum berarti karhutla telah berakhir.
“Data sekarang menurun bukan berarti habis ya, menurun. Namun mudah-mudahan, doakan-doakan tetap bisa berlanjut,” ujarnya. (daw)


