Kabut Asap Paksa Petani Palangka Raya Hentikan Penanaman

PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta musim kemarau berkepanjangan membuat sejumlah petani di Kota Palangka Raya menghentikan sementara aktivitas penanaman. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat pertumbuhan tanaman, tetapi juga mendorong petani mengalihkan kegiatan ke persiapan musim tanam berikutnya.

Ketua Kelompok Tani Makmur Sembada Kota Palangka Raya, Basuki, menjelaskan bahwa langkah tersebut dipilih untuk mengurangi risiko kerugian ketika kondisi lingkungan belum mendukung pertumbuhan tanaman. Menurutnya, tanaman hortikultura seperti cabai, timun, dan tomat mengalami kendala untuk tumbuh dan menghasilkan buah selama kemarau disertai kabut asap.

“Petani berhenti menanam karena asap yang tambah parah, tanaman tidak bisa tumbuh. Daripada rugi, lebih baik diistirahatkan saja,” ujar Basuki saat menjelaskan kondisi yang dihadapi petani, Senin (26/10/2026).

Ia menyebutkan, luas lahan anggota kelompok tani jika digabungkan mencapai sekitar 9,5 hektare. Sumber air dari sumur masih tersedia, tetapi kondisi tersebut tidak sepenuhnya mengatasi kendala budidaya karena pertumbuhan tanaman tetap tidak seoptimal saat musim hujan.

Untuk sementara, banyak petani memilih mempersiapkan lahan dan kebutuhan tanam menjelang datangnya musim hujan. Mereka juga perlu mempertimbangkan jenis tanaman yang lebih memungkinkan dibudidayakan dalam kondisi cuaca saat ini.

Basuki menjelaskan, keterbatasan produksi turut memengaruhi ketersediaan sayuran di pasaran. Tanaman seperti kangkung dan bayam dapat menjadi alternatif bagi petani, meskipun tetap menghadapi dampak kondisi lingkungan. Sementara itu, hasil panen bergantung pada luas lahan dan jenis tanaman yang dibudidayakan.

Sebagai gambaran, satu bungkus benih timun yang berisi sekitar 800 biji dapat menghasilkan panen sekitar 1,5 hingga 2 ton dalam kondisi budidaya yang mendukung. Namun, gangguan pertumbuhan akibat kemarau dan kabut asap berpotensi memengaruhi hasil yang diperoleh petani.

Menurut Basuki, ketahanan pangan keluarga dapat diperkuat melalui pemanfaatan lahan untuk menanam tanaman pangan dan hortikultura bagi kebutuhan sehari-hari. Upaya tersebut juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pembelian bahan pangan, termasuk beras, ketika harga komoditas mengalami kenaikan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya, Sugiyanto, mengatakan lahan pertanian yang masih produktif pada musim kemarau banyak dikelola kelompok tani, khususnya untuk komoditas hortikultura.

“Kondisi kemarau dan kekeringan ditambah dampak karhutla dengan terjadinya kabut asap tentu sangat memengaruhi hasil produksi petani,” ujar Sugiyanto.

Ia menyarankan masyarakat tetap memperkuat ketahanan pangan keluarga, salah satunya dengan menanam tanaman hortikultura yang kerap berkontribusi terhadap inflasi, seperti cabai. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan juga terus melakukan pendampingan agar petani dapat berkembang dan mandiri sebagai pemasok sayuran lokal untuk Kota Palangka Raya dan wilayah sekitarnya.

Dengan kondisi pertanian yang masih menghadapi tekanan cuaca, pemulihan aktivitas penanaman akan bergantung pada perkembangan musim hujan dan kemampuan petani menyesuaikan pola budidaya. Sementara itu, pemanfaatan lahan pekarangan dan penguatan produksi lokal menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan pangan keluarga. (daw)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *