PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Pemerintah Kota Palangka Raya menyalurkan lebih dari 7.000 paket sembako bersubsidi selama Oktober 2026 untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau di tengah dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kenaikan harga sejumlah komoditas.
Kepala Bidang Perdagangan DPKUKMP Kota Palangka Raya, Fajar Bhakti, menyampaikan informasi tersebut pada Senin (26/10/2026). Ia menjelaskan bahwa penyaluran paket dilakukan melalui kegiatan pasar murah secara berkala, termasuk pelaksanaan serentak di 10 titik di wilayah Kota Palangka Raya.
Total paket yang disalurkan terdiri atas 6.000 paket pada tahap awal dan tambahan 1.000 paket susulan, dengan jumlah keseluruhan lebih dari 7.000 paket. Kegiatan menjangkau sejumlah wilayah, antara lain Kelurahan Kereng Bangkirai, Sabaru, Sebangau, Danau Tundai, dan Kameloh Baru.
Setiap paket berisi beras premium 5 kilogram, minyak goreng premium 1 liter, dan gula pasir 1 kilogram. Masyarakat dapat membelinya melalui sistem kupon dengan harga Rp75.000 per paket, lebih rendah dibandingkan harga normal sebesar Rp119.000.
Fajar menjelaskan, pasar murah menyasar masyarakat berpenghasilan rendah dan warga yang terdampak langsung oleh paparan kabut asap. Selain kegiatan tersebut, pemerintah kota juga melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai bagian dari upaya menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok.
“Volume penjualan eceran sedikit menurun akibat penyesuaian daya beli masyarakat,” jelas Fajar mengenai kondisi perdagangan pangan di Palangka Raya.
Di tengah pelaksanaan intervensi tersebut, DPKUKMP juga memantau ketersediaan komoditas utama. Berdasarkan hasil pemantauan, stok beras, minyak goreng, dan gula di tingkat distributor serta pedagang grosir dipastikan mencukupi untuk kebutuhan sekitar dua bulan ke depan.
Fajar menyebut intervensi pasar murah menjadi salah satu langkah pemerintah untuk membantu masyarakat menghadapi tekanan harga. Sementara itu, komoditas hortikultura masih menjadi perhatian karena cabai rawit merah tercatat mencapai Rp120.000 per kilogram, dipengaruhi penurunan produksi akibat kemarau dan gangguan distribusi selama karhutla.
Menjelang akhir tahun, pemerintah kota juga mewaspadai kemungkinan gejolak harga pangan apabila kekeringan dan karhutla terus berlangsung hingga Desember. Cabai, bawang, dan komoditas perikanan air tawar diperkirakan masih berpotensi mengalami tekanan harga menjelang Natal dan Tahun Baru.
Karena itu, pemantauan stok, perkembangan harga, serta pelaksanaan program pangan bersubsidi menjadi bagian dari langkah antisipasi untuk menjaga akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. (daw)






