Pemkot Palangka Raya Salurkan Bantuan bagi Petani Terdampak Kekeringan

PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Pemerintah Kota Palangka Raya melakukan sejumlah upaya untuk membantu petani yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau berkepanjangan. Bantuan pompa air, sarana produksi pertanian, serta beras cadangan pangan pemerintah disiapkan untuk mendukung kegiatan pertanian dan membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat terdampak.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya, Sugiyanto, menjelaskan langkah tersebut pada Selasa (27/10/2026). Menurutnya, kekeringan telah menimbulkan kerusakan tanaman dan kerugian sarana produksi, meskipun nilai kerugian dalam rupiah belum dapat dipastikan.

Berdasarkan pendataan Dinas Pertanian bersama penyuluh pertanian lapangan, kerugian sarana produksi yang telah teridentifikasi meliputi benih padi sebanyak 440 kilogram dan pupuk sekitar 40 sak. Adapun nilai kerugian keseluruhan masih memerlukan pendataan lebih rinci berdasarkan luas lahan, jenis komoditas, tingkat kerusakan, biaya produksi, serta kehilangan hasil panen.

Sugiyanto mengatakan, pemerintah telah mengupayakan pemanfaatan lima unit pompa air bantuan yang didistribusikan kepada kelompok tani pada 2025. Pompa tersebut digunakan untuk mengalirkan air dari sumber yang masih tersedia menuju lahan pertanian terdampak.

Pada 2026, pemerintah juga menyalurkan sarana produksi berupa benih padi dan pupuk serta melakukan pengawasan terhadap penyaluran pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat di lima kecamatan. Namun, rincian jumlah penerima dan luasan lahan yang berhasil terbantu melalui masing-masing bantuan belum disebutkan.

Selain dukungan untuk kegiatan pertanian, Pemerintah Kota Palangka Raya menyalurkan beras cadangan pangan pemerintah kota kepada 1.700 kepala keluarga petani dan nelayan yang terdampak karhutla dan kekeringan. Masyarakat terdampak juga dapat mengakses pangan dengan harga lebih terjangkau melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM).

Di tengah upaya tersebut, keterbatasan air masih menjadi kendala utama. Penurunan ketersediaan air tanah, debit sungai, embung, dan sumber air lainnya menyebabkan petani kesulitan memenuhi kebutuhan air tanaman. Kondisi itu turut mendorong penundaan jadwal tanam untuk menghindari risiko gagal panen.

Jika kemarau berlangsung lebih lama, risiko yang dihadapi petani meliputi bertambahnya lahan yang tidak dapat ditanami, mundurnya musim tanam, terganggunya pertumbuhan tanaman, serta menurunnya produktivitas. Karena itu, optimalisasi pompa dan pemanfaatan sumber air yang tersisa menjadi bagian dari langkah penanganan yang dilakukan.

Sugiyanto menyebut penyesuaian kalender tanam, penggunaan varietas yang lebih toleran terhadap kekeringan, serta pengembangan sumber air baru juga dapat dipertimbangkan. Koordinasi dengan BMKG dan kelompok tani diperlukan agar jadwal kegiatan budidaya dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi cuaca.

Meski sejumlah bantuan telah dilakukan, pendataan lanjutan tetap diperlukan untuk mengetahui nilai kerugian petani secara lebih menyeluruh dan menentukan kebutuhan penanganan berikutnya. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk mengarahkan bantuan sesuai tingkat kerusakan lahan dan kebutuhan masing-masing kelompok tani. (daw)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *