PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Luas panen padi di Kalimantan Tengah sepanjang Januari hingga Oktober 2026 mengalami penurunan 3,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, kondisi tersebut tidak diikuti penurunan produksi karena produktivitas tanaman padi justru meningkat sebesar 7,41 persen.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalimantan Tengah, Rendy Lesmana, menyampaikan perkembangan tersebut pada Selasa (3/11/2026). Berdasarkan data yang dipaparkan, luas panen Januari–Oktober 2026 mencapai 93.008 hektare, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 96.807 hektare.
Di sisi lain, produktivitas padi mengalami peningkatan dari rata-rata 3,43 ton per hektare pada 2025 menjadi sekitar 3,68 ton per hektare pada 2026. Kenaikan sebesar 0,25 ton per hektare tersebut membantu mempertahankan bahkan meningkatkan produksi meskipun luas panen menyusut.
“Walaupun luas panen mengalami penurunan, produksi gabah dan beras justru meningkat karena produktivitas tanaman padi kita lebih baik,” ujar Rendy.
Dampaknya terlihat pada produksi gabah kering giling (GKG). Sepanjang Januari–Oktober 2025, produksi tercatat sebesar 332.021 ton, sedangkan pada periode yang sama tahun 2026 meningkat menjadi 342.629 ton atau bertambah sekitar 3,19 persen.
Peningkatan juga terjadi pada produksi beras. Dengan menggunakan asumsi rendemen sekitar 60–65 persen, produksi beras yang sebelumnya 197.224 ton pada 2025 meningkat menjadi 203.525 ton pada 2026.
Rendy mengatakan perkembangan produktivitas di setiap kabupaten tidak seragam. Dari enam kawasan sentra produksi pangan, terdapat penambahan luas tanam di Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau. Namun, dari sisi luas panen, Pulang Pisau mengalami penambahan, sedangkan Kapuas justru mengalami penurunan.
Adapun daerah yang menunjukkan peningkatan produktivitas antara lain Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, dan Barito Timur. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan hasil produksi tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang dipanen, tetapi juga hasil yang diperoleh dari setiap hektare lahan.
Meski capaian produktivitas menunjukkan perkembangan positif, Rendy mengingatkan bahwa peningkatan tersebut tetap perlu dipertahankan di tengah tekanan perubahan iklim dan potensi kehilangan hasil pertanian.
Menurutnya, pemantauan produktivitas, pengawalan kegiatan tanam, serta evaluasi perkembangan luas panen perlu terus dilakukan agar peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada kondisi satu musim tanam, tetapi dapat dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. (daw)






