Teladan dari Abu Bakar dan Umar: Pemimpin Harus Siap Dikritik

Dengan demikian, para pemimpin seyogayanya terinspirasi untuk meneladani jejak Abu Bakar dan Umar bin Khattab sebagai pemimpin yang selalu siap dikritik, dikoreksi, dan dievaluasi.

Seorang pemimpin yang bijaksana tidak boleh menjadi sosok yang anti-kritik, apalagi mengingat bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna. Kritik bukanlah ancaman, melainkan nasihat yang membantu seorang pemimpin dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, kritik berfungsi untuk mengingatkan ketika pemimpin lalai, menutup kekurangan saat terjadi kesalahan, menyatukan suara rakyat di belakang mereka, dan memulihkan hubungan hati yang terpisah. Kritik, pada dasarnya, adalah bentuk partisipasi yang menjaga keutuhan dan keadilan dalam kepemimpinan. (Fathul Bari, [Lebanon: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1971], jilid I, halaman 184).

Oleh karena itu, kritik seharusnya tidak dianggap sebagai masalah bagi seorang pemimpin, tetapi justru sebagai instrumen penting untuk menjaga kualitas pengabdian kepada bangsa. Kritik merupakan kontrol yang diperlukan demi meningkatkan kualitas kepemimpinan, dan merupakan syarat mutlak dalam mewujudkan cita-cita luhur negeri ini. Wallahu a’lam.


Ustadz Muqoffi, Guru Pon-Pes Gedangan & Dosen IAI NATA Sampang Madura

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *