Kantamedia.com – Allah Ta’ala menetapkan, malam turunnya Alquran sebagai Lailatul Qadar. Nilai malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam agar meraih kemuliaan Lailatul Qadar, yang terjadi pada Ramadan, khususnya 10 malam terakhir.
Bagi umat Islam, Ramadan merupakan bulan yang mulia. Di dalamnya, Allah SWT menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad SAW. Syariat yang terkandung dalam kitabullah ini berlaku bagi seluruh manusia hingga Hari Akhir.
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)” (QS al-Baqarah: 185).
Turunnya Alquran merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang berlangsung secara bertahap selama lebih dari dua dekade. Menurut alim ulama, Alquran tidak hanya diturunkan pada Lailatul Qadar. Turunnya kitab suci ini melalui tiga fase berturut-turut. Ada yang sekaligus menurunkan Alquran. Ada pula tahapan yang di dalamnya kitabullah turun secara berangsur-angsur.
Tahap Turunnya Alquran
Tahap Pertama Lauh Mahfuz
Menurut para ulama, tahapan pertama turunnya Alquran adalah dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia. Peristiwa ini diyakini terjadi sekaligus pada malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Qadr.
Pada tahap ini, seluruh Alquran dipindahkan dari tempat penyimpanan ilahi, Lauh Mahfuz, menuju Baitul Izzah. Proses ini menandai dimulainya penurunan wahyu kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAW.
Dalilnya adalah surah al-Buruj ayat 21-22. Artinya, “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Alquran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.”
Imam al-Hafidz Badruddin al-Aini mengatakan, Lauh Mahfuzh di sisi Allah Ta’ala. Penyebutan itu tak berarti dalam perspektif tempat, melainkan isyarat kesempurnaan keberadaannya dibanding makhluk-makhluk lainnya.
Jumhur ulama biasa mengartikan Lauh Mahfuzh sebagai kitab atau peranti keras raksasa yang menyimpan seluruh data atau cetak biru mengenai segala peristiwa yang terjadi, sejak zaman azali hingga kiamat. Makhluk itu sering disinonimkan dengan Umm al-Kitab (QS ar-Ra’d:39), Kitab Maknun (QS al-Waaqi’ah:77), dan Kitab al-Mubin (QS al-An’aam:59).
Tahap Kedua Baitul Izzah
Tahap berikutnya adalah turunnya wahyu dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Wahyu pertama turun ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkhalwat di Gua Hira, di Jabal Nur, Mekah.
Fase ini merupakan kelanjutan dari sebelumnya. Setelah di Lauh Mahfuzh, Alquran secara utuh diturunkan ke Baitul Izzah, yakni langit dunia (samaaud dunya). Ini terjadi pada bulan suci. Ulama-ulama menyatakan, momen turunnya Alquran itu berlangsung pada malam Jumat tanggal 17 Ramadan.
Saat itu disebut pula sebagai Lailatul Qadar. Ayat pertama yang diturunkan adalah Surah Al-Alaq ayat 1–5 yang berbunyi “Iqra” atau “Bacalah”. Peristiwa ini menjadi awal dari masa kenabian Rasulullah.
Tahap Ketiga Sampai pada Nabi
Fase terakhir. Pada tahap ini, Alquran diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Turunnya kitabullah ini terjadi secara berangsur-angsur, yakni dalam kurun waktu sekitar 23 tahun. Dalil terkait hal itu adalah surah as-Syu’ara ayat 193-195.
Artinya: “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.”
Pewahyuan Secara Bertahap Selama 23 Tahun
Setelah wahyu pertama, Alquran kemudian diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun, yakni sekitar 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah.
Proses bertahap ini terjadi sesuai dengan kondisi, peristiwa, dan kebutuhan umat Islam pada masa itu. Banyak ayat yang turun sebagai jawaban atas persoalan yang dihadapi masyarakat, baik terkait akidah, ibadah, hukum, maupun kehidupan sosial.
Hikmah Turunnya Alquran Secara Bertahap
Para ulama menjelaskan bahwa turunnya Alquran secara bertahap memiliki beberapa hikmah penting, di antaranya:
- Memudahkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam menghafal serta memahami isi Alquran.
- Menjadi penguat hati Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah.
- Memberikan jawaban langsung terhadap persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
- Membantu proses pembentukan hukum dan aturan dalam Islam secara bertahap.
Tahapan turunnya Alquran menunjukkan bahwa wahyu ilahi diberikan dengan penuh kebijaksanaan. Proses yang berlangsung selama puluhan tahun tersebut memungkinkan ajaran Islam dipahami dan diamalkan secara mendalam oleh generasi awal umat Islam.
Bagi umat Muslim, peristiwa turunnya Alquran bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya memahami dan mengamalkan ajaran kitab suci tersebut dalam kehidupan sehari-hari. (*/pri)


