Isu Pemakzulan Donald Trump Menguat di Parlemen AS

Kantamedia.com – Isu upaya pemakzulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mencuat di parlemen. Pemakzulan Donald Trump sebenarnya bukan hal baru—ia adalah satu-satunya presiden AS yang dimakzulkan (impeached) dua kali oleh DPR (House of Representatives), namun semuanya gagalkan di Senat.

George Conway, mantan pengacara Partai Republik yang kini menjadi salah satu pengkritik paling vokal Donald Trump, menilai cengkeraman Trump terhadap partainya mulai melemah di tengah meningkatnya kekhawatiran internal Partai Republik.

Dalam wawancara dengan jurnalis Tara Palmeri yang dipublikasikan Jumat (27/3/2026), Conway menyebut pemerintahan Trump sebagai yang “paling korup” dalam sejarah Amerika Serikat. Ia juga menilai mulai muncul tanda-tanda retakan di internal Partai Republik.

“Bahkan Partai Republik sudah mulai muak,” ujar Conway.

Data jajak pendapat yang dihimpun Newsweek menunjukkan dukungan Trump mulai melemah di kalangan pemilih independen, kelompok yang selama ini kerap menentukan hasil pemilu paruh waktu.

Trump sebelumnya telah memperingatkan para anggota parlemen dari Partai Republik bahwa kekalahan di DPR dapat berujung pada upaya pemakzulan. Pesan tersebut juga digaungkan oleh pimpinan partai secara terbuka.

Seiring mendekati pemilu paruh waktu, tingkat persetujuan terhadap Trump dilaporkan mengalami penurunan.

Conway menilai, meskipun banyak politisi Partai Republik secara terbuka membela Trump, secara tertutup mereka menganggap presiden berpotensi merugikan secara politik, terutama dalam isu penegakan imigrasi dan kebijakan luar negeri.

Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Lincoln Project, kelompok yang menentang Trump dari dalam spektrum konservatif.

Dalam pencalonannya sebagai anggota DPR dari New York, Conway menjadikan isu pemakzulan sebagai agenda utama. Ia menegaskan bahwa pemakzulan bukan sekadar strategi politik, melainkan kewajiban konstitusional.

Trump sendiri telah dua kali dimakzulkan pada masa jabatan pertamanya dan dibebaskan oleh Senat dalam kedua kasus tersebut.

Conway meyakini Partai Demokrat berpeluang menguasai Senat pada tahun depan. Menurut dia, hal itu dapat membuka jalan bagi proses persidangan pemakzulan yang lebih substansial.

“Dengan itu, aturan bisa ditentukan ulang, termasuk menghadirkan persidangan yang nyata, bukan sekadar pidato politik,” kata Conway.

Meski demikian, sejumlah pemimpin Partai Demokrat masih bersikap hati-hati. Mereka menilai upaya pemakzulan tanpa peluang realistis untuk vonis bersalah di Senat berpotensi menjadi distraksi politik.

Anggota DPR dari California, Robert Garcia, menyatakan bahwa pemakzulan hampir pasti gagal di Senat, mengingat dibutuhkan dukungan 67 suara untuk memberhentikan presiden.

Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mereda. Anggota DPR seperti Al Green dan Shri Thanedar tetap mendorong pengajuan pasal pemakzulan, dengan alasan tanggung jawab konstitusional Kongres.

Trump sebelumnya menegaskan pentingnya kemenangan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu guna menghindari upaya pemakzulan.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, menyatakan fokus utama pemerintah adalah menjaga keamanan nasional melalui berbagai kebijakan yang sedang berjalan.

Ke depan, pemilu paruh waktu akan menjadi ujian utama bagi kekuatan politik Trump di internal Partai Republik. Hasil jajak pendapat, dinamika pemilihan pendahuluan, serta strategi komunikasi partai akan menjadi indikator arah dukungan politik dalam beberapa bulan mendatang. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *