Kantamedia.com – Penyebaran wabah Ebola yang dipicu oleh strain langka virus Bundibugyo di wilayah timur laut Republik Demokratik Kongo (DRC) kian meluas hingga ke area kamp pengungsi yang padat penduduk. Situasi ini memicu kekhawatiran global bahwa krisis kesehatan yang bermula sejak pertengahan Mei tersebut kini tengah memasuki fase krusial yang jauh lebih berbahaya.
Tantangan terbesar dalam penanganan medis kali ini adalah belum adanya vaksinasi maupun protokol pengobatan resmi yang disetujui untuk menetralisasi spesimen virus Bundibugyo tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan temuan transmisi lokal baru hampir setiap hari pada tiga provinsi terdampak. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan fasilitas medis dan kapasitas respons di lapangan yang belum mampu mengimbangi laju penularan virus yang masif.
Sejak otoritas setempat resmi mengumumkan status darurat pada 15 Mei 2026, pemerintah DRC telah mengonfirmasi 689 kasus positif virus Ebola dengan angka kematian mencapai 139 jiwa. Provinsi Ituri menjadi episentrum utama penularan, meski laporan kasus medis serupa kini juga telah terdeteksi di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.
Selain angka kematian yang terus bertambah, tim medis di lapangan juga tengah menguji 119 kasus suspek yang masih dalam proses karantina. WHO menegaskan bahwa ketersediaan tempat tidur di ruang isolasi saat ini sangat terbatas dan jauh dari kata ideal untuk menampung lonjakan pasien baru.
Dampak penyebaran penyakit mematikan ini pun mulai melintasi batas negara. Uganda, yang berbatasan langsung dengan DRC, sejauh ini telah mengonfirmasi 19 kasus infeksi Ebola dengan dua korban jiwa.
Kendati demikian, Badan Kesehatan Uni Afrika memastikan bahwa eskalasi penularan di wilayah Uganda masih dapat dimitigasi dengan ketat sehingga belum berpotensi memicu kepanikan massal di kawasan sekitarnya. (*/pri)


