Kantamedia.com – Kedutaan Besar Iran mendata sebanyak 200 siswi sekolah dasar tewas akibat serangan rudal yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Sabtu (28/2/2026).
AS dan Israel dinilai sengaja menargetkan lokasi sipil sebagai sasaran rudal, termasuk sekolah di wilayah Minab yang kini telah hancur. Parahnya lagi, serangan terjadi saat masyarakat sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Kedubes Iran menegaskan serangan itu melanggar integritas territorial dan kedaulatan nasional. Dalam pernyataan itu, Kedubes Iran juga menyoroti klaim AS yang disebut ingin membantu rakyat Iran.
Klaim tersebut diakuinya tidak sejalan dengan tindakan militer yang dilakukan hingga menewaskan ratusan warga Iran.
“Kini terlihat bagaimana mereka ‘membantu’ rakyat Iran dengan serangan rudal terhadap perempuan dan anak-anak tak berdosa di sekolah dasar, klub olahraga, rumah-rumah penduduk, dan lainnya, terlebih lagi di bulan suci Ramadan,” tulis Kedubes Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi, melalui akun X-nya, menegaskan bahwa bangunan yang hancur tersebut merupakan sekolah dasar untuk anak perempuan di selatan Iran.
“Sekolah ini dibom pada siang hari, ketika dipenuhi murid-murid kecil. Puluhan anak tak berdosa telah dibunuh hanya di lokasi ini saja,” tulisnya.
Ia menambahkan, “Kejahatan terhadap rakyat Iran ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan.”
Ayatollah Ali Khamenei dan Pejabat Iran Tewas
Tentara Israel dan AS disebut menjatuhkan 30 bom ke kompleks kediaman Khamenei. Dalam serangan tersebut, Kedubes Iran menyatakan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei gugur.
Gugurnya Ali Khamenei memicu aksi demonstrasi di berbagai wilayah. Media Iran mengatakan para demonstran yang membawa bendera Iran berkumpul di pusat-pusat kota untuk menyuarakan kesedihan mereka.
Di Teheran, ratusan orang berkumpul di Lapangan Inkilap, mengibarkan bendera dan poster Khamenei, dan meneriakkan slogan-slogan yang mengutuk AS dan Israel. Di kota suci Qom, ratusan orang berkumpul di makam Hazrat Masume untuk mengecam serangan tersebut.
Sementara itu, di Mashhad, para pelayat mengungkapkan rasa duka dengan membentangkan bendera hitam di atas kubah Makam Imam Reza, salah satu situs keagamaan paling dihormati di Iran, dan banyak yang terlihat meneteskan air mata di sekitar makam tersebut.
Mereka menggambarkan kematian Khamenei sebagai cerminan peran kepemimpinan publiknya sepanjang hidupnya.
Sumber-sumber Iran melaporkan bahwa beberapa anggota keluarga Khamenei, termasuk putrinya, menantu laki-lakinya, cucunya, dan menantu perempuannya, tewas dalam serangan tersebut.
“Presiden, ketua pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali akan menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi di masa kekosongan jabatan,” ungkap Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Mokhber, seperti dikutip, kantor berita IRNA, Minggu (1/3/2026).
Selain Khamenei, serangan presisi ini juga melumpuhkan struktur komando militer tertinggi Iran.
Berikut ini daftar pejabat Iran yang tewas:
1. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei
2. Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayor Jenderal, Mohammad Pakpour
3. Sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Ali Shamkhani
4. Menteri Pertahanan, Aziz Nasirzadeh
5. Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Abdol Rahim Mousavi
6. Pejabat Intelijen Iran, Saleh Asadi
7. Pejabat Penelitian Iran, Hossein Jabal Amelian
8. Pejabat Penelitian Iran, Reza Mozaffari-Nia
9. Penghubung pertahanan senior Iran, Mohammed Shirazi
10. Putri Khamenei
11. Menantu Khamenei
12. Cucu Khamenei
MUI Desak Indonesia Cabut dari BoP
Kedok perdamaian yang dijajakan Presiden AS Donald Trump lewat Board of Peace (BoP) rontok pascaserangan rudal ke Iran.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim menilai serangan kolaborasi dengan Israel itu jadi bukti konkret Trump sejatinya perusak perdamaian dunia. Baginya, BoP tak lebih dari sekadar macan kertas yang tak berguna.
“Karena itu, BoP semakin kehilangan legitimasi moral, politik dan bahkan hukum karena telah nyata tak berguna untuk menciptakan perdamaian sejati dan apalagi keadilan,” tegas Sudarnoto dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026).
Di matanya, Trump tak lebih dari aktor yang tega membajak istilah ‘perdamaian’ demi ambisi hegemonik dan imperialistiknya sendiri. Kepercayaan pada BoP pun kini berada di titik nadir, terutama soal nasib Palestina.
“Dengan adanya serangan terhadap Iran maka Trump dengan BoPnya tak bisa dipercaya menjadi badan yang memperjuangkan kedamaian dan kemerdekaan Palestina,” tambahnya. Agresi ini, menurut Sudarnoto, memang sengaja didesain untuk menyeret Timur Tengah ke jurang perang regional agar kawasan tersebut lumpuh total.
Kegeraman serupa meledak dari Ketua Umum MUI, Anwar Iskandar. Ia mempertanyakan arah strategi BoP yang justru terasa jomplang dan memojokkan kemerdekaan Palestina.
“Apakah strategi (BoP) tersebut sungguh diarahkan untuk perdamaian yang adil, atau justru memperkuat arsitektur keamanan yang timpang dan mengubur kemerdekaan Palestina?,” tanya Anwar kritis.
MUI menuntut aksi nyata dari pemerintah Indonesia untuk segera cabut dari BoP. “Untuk itu, MUI mendesak pemerintah Indonesia agar mencabut keanggotaan dari BoP, karena dipandang tidak efektif mewujudkan perdamaian sejati di Palestina. Karena yang terjadi justru sebaliknya, Trump melakukan serangan bersama Israel terhadap Iran dan memicu perang regional yang melibatkan berbagai kekuatan, baik secara langsung maupun melalui proksi,” ungkapnya.
Dia bilang, serangan ini bukan insiden biasa, melainkan upaya sistematis untuk melemahkan posisi Iran sekaligus memutus urat nadi dukungan terhadap perjuangan Palestina. Dominasi regional Israel atas Palestina diduga kuat menjadi agenda utama di balik dentuman rudal tersebut. (*/pri)


