Hotspot Barsel Turun Drastis, Kabut Asap Masih Tebal, Ini Penyebabnya

Buntok, Kantamedia.com – Jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah dalam dua hari terakhir turun drastis. Kendati begitu, kabut asap tebal masih menyelimuti Kota Buntok dan sekitarnya, sehingga warga diminta tetap waspada terhadap ancaman bagi kesehatan.

Merujuk data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (Sipongi) pada Minggu (11/10/2026) siang, satelit NASA-MODIS hanya merekam satu titik panas di Barsel, yakni di Kecamatan Dusun Hilir. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barsel, Agus In’yulius mengaku bersyukur atas turunnya jumlah titik panas tersebut.

“Alhamdulillah, kita bersyukur karena hotspot di Barsel dalam dua hari terakhir mengalami penurunan sangat drastis. Namun, masyarakat tetap harus waspada karena kabut asap masih cukup tebal,” ujar Agus, Minggu sore.

Menurut Agus, sedikitnya titik panas yang tertangkap satelit tidak berarti ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah berakhir. Karena faktanya, kabut asap pekat masih terjadi. Kondisi itu diduga bersumber dari lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah. Pasalnya, sebagian besar lahan di Kabupaten Barito Selatan yang terbakar, khususnya di wilayah Kecamatan Dusun Selatan merupakan lahan gambut.

Meskipun api di permukaan tampak padam, bara gambut tetap menyala di dalam lapisan organik tanah yang tebal dan kering. Sehingga bara yang belum padam sepenuhnya tersebut tetap bisa memproduksi asap, meskipun hotspot di permukaan sudah berkurang.

“Kabut asap akibat kebakaran lahan gambut ini memang sulit dipadamkan, karena api merambat di bawah permukaan tanah (ground fire) dan sulit dijangkau oleh penyiraman air biasa,” ujarnya.

Ia mengingatkan warga agar tidak lengah. Selama kabut asap masih menyelimuti Barsel, paparan partikulat di udara berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

Agus memaparkan data kualitas udara terkini. Konsentrasi partikulat PM10 tercatat 1.000, sedangkan PM2.5 mencapai 660. Angka itu, menurutnya, patut menjadi perhatian serius. “Karena kondisi udara di Barsel masih tergolong berbahaya, masyarakat kami imbau agar mengurangi aktivitas di luar rumah, atau jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, gunakan masker,” katanya.

Imbauan itu terutama ditujukan bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Warga juga diminta memakai masker yang sesuai saat harus keluar rumah.

Di sisi lain, BPBD bersama tim terpadu terus memantau dan menangani lokasi yang terindikasi terbakar. Petugas memakai informasi titik panas dari aplikasi Sipongi untuk menentukan lokasi yang harus segera ditindaklanjuti.

Setelah lokasi diketahui, tim gabungan menyiram dan mendinginkan area yang sebelumnya terbakar. Langkah ini bertujuan mencegah bara menyala kembali dan kembali memicu asap.

Agus menegaskan, pemadaman dan pendinginan oleh tim gabungan terus dilakukan hingga seluruh sumber bara benar-benar padam. Dengan begitu, ancaman karhutla dapat ditekan dan kualitas udara di Barito Selatan berangsur pulih. (pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *