Palangka Raya, Kantamedia.com – Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatatkan sebanyak 516 kejadian bencana hingga periode 22 Juni 2026. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) setempat mencatat, sebanyak 323 dari total 516 kejadian bencana didominasi oleh amukan si jago merah di area vegetasi. Akibatnya, hingga pertengahan Juni, akumulasi luas lahan yang hangus terbakar di wilayah ini telah menembus angka 456,78 hektare.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPB-PK Provinsi Kalteng, Ahmad Toyib menjelaskan bahwa selain karhutla, total ratusan bencana tersebut juga mencakup kebakaran permukiman dan fenomena cuaca ekstrem. Berdasarkan pemetaan instansi terkait, Kota Palangka Raya menjadi wilayah yang paling parah terdampak.
“Kami terus melakukan kesiapsiagaan penuh di lapangan bersama tim gabungan. Berdasarkan data akumulasi dari awal tahun hingga 22 Juni 2026, wilayah dengan kejadian karhutla terbakar paling banyak berada di Kota Palangka Raya dengan 144 kejadian, disusul Kotawaringin Timur dengan 50 kejadian, dan Barito Utara sebanyak 43 kejadian,” kata Ahmad Toyib di Palangka Raya, Selasa (23/6/2026).
Optimasi Modifikasi Cuaca
Merespons situasi yang kian mengkhawatirkan, pemerintah daerah bersama instansi lintas sektor bergerak cepat mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah penanganan strategis ini memanfaatkan Pesawat C208B-EX untuk memicu pertumbuhan awan hujan di atas wilayah-wilayah kritis guna menekan risiko perluasan api.
Saat ini, status penanganan di tingkat provinsi juga telah ditingkatkan. Kalteng resmi berada di bawah status Siaga Darurat Bencana Karhutla. Status transisi darurat ini berlaku selama lima bulan penuh, terhitung sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026, mengacu pada SK Gubernur Nomor 100.3.3.1/142/2026.
“Untuk menjaga kondisi tingkat kemudahan terbakar agar tidak semakin parah, operasi penaburan bahan semai NaCl terus kami lakukan. Pada beberapa sorti penerbangan sebelumnya, tim telah menyemaikan bahan semai di zona blocking area potensial, seperti di wilayah Kabupaten Barito Selatan, Katingan, hingga Kotawaringin Timur,” tutur Toyib.
Menutup keterangannya, Toyib mengimbau seluruh personel satgas di lapangan serta masyarakat luas untuk meningkatkan kewaspadaan. Peringatan ini didasarkan pada parameter cuaca dan indeks kemudahan terbakar (Fine Fuel Moisture Code/FFMC) rilis BMKG yang menunjukkan sejumlah wilayah mulai masuk kategori kering hingga sangat mudah terbakar. Guna mencapai target besar “Kalteng Bebas Kabut Asap Tahun 2026”, pemerintah mengintensifkan patroli darat, sosialisasi berkala, serta pemantauan aktif melalui 28 titik kamera pengawas. (pri)


