Sampit, Kantamedia.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi menggeser jadwal tanam padi masa tanam ketiga di Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit. Langkah preventif ini diambil guna melindungi para petani dari ancaman gagal panen akibat krisis air pasokan di kawasan sentra pangan tersebut.
Kebijakan penundaan bercocok tanam diputuskan demi menghindari kerugian material yang lebih besar. Pemerintah daerah menilai memaksakan aktivitas pembudidayaan tanaman di atas tanah kering tanpa kecukupan air hanya akan meningkatkan risiko kerusakan bibit.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Yephi Hartadi Periyanto, menjelaskan bahwa dalam situasi iklim normal, lahan di Lempuyang mampu dipanen hingga tiga kali setahun. Biasanya, usai menuntaskan panen pada Juli, petani langsung mengolah tanah untuk kembali menanam pada Agustus. Kendati demikian, pola rutin tersebut terpaksa diubah menyesuaikan kondisi cuaca ekstrem.
“Situasi sekarang berbeda. Ketersediaan air di lahan belum mencukupi, sehingga lebih bijak jika jadwal tanam ditunda terlebih dahulu dibanding dipaksakan dan berisiko merugikan petani,” ujar Yephi, Jumat (31/7/2026).
Penyesuaian ritme tanam ini selaras dengan analisis BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit yang memprediksi puncak musim kemarau 2026 bergeser ke September. Apabila tidak ada bantuan sarana air dari pemerintah pusat, penanaman diperkirakan baru bisa dimulai pada akhir September.
Meski begitu, jadwal tersebut masih berpeluang dipercepat ke awal September jika bantuan infrastruktur pengairan, seperti irigasi pompa (Irpom) dan irigasi perpipaan (Irpip), dapat segera difungsikan di lapangan. “Harapan kami bantuan irigasi bisa segera terealisasi. Jika fasilitas itu sudah tersedia, petani memiliki peluang untuk memulai tanam lebih cepat karena kebutuhan air dapat dipenuhi,” ungkapnya.
Guna mencegah kerugian massal, DPKP mengimbau para penggarap lahan agar tidak tergesa-gesa mengolah tanah yang tandus. Yephi mengingatkan bahwa kecukupan pasokan air merupakan syarat mutlak sebelum bibit mulai ditanam. “Yang paling penting saat ini bukan mengejar waktu tanam, melainkan memastikan tanaman memiliki peluang tumbuh dengan baik. Sedikit terlambat lebih baik daripada kehilangan hasil panen,” tegas Yephi.
Dalam menghadapi dinamika cuaca ini, jajaran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) ditugaskan untuk mengintensifkan pendampingan serta memantau kondisi geografis wilayah binaan. Walau mayoritas kelompok tani telah memahami pergeseran musim, pengawalan teknis tetap krusial agar keputusan di lapangan berbasis data presisi.
Di sisi lain, masyarakat diimbau tidak risau terhadap ancaman kelangkaan bahan pokok. DPKP menjamin pasokan beras yang tersimpan di gudang Bulog Kotim masih sangat melimpah untuk memenuhi kebutuhan warga hingga beberapa bulan mendatang.
“Persediaan beras dalam kondisi aman. Fokus kami sekarang adalah menjaga agar produksi petani tetap berjalan dan mereka tidak mengalami kerugian akibat gagal tanam maupun gagal panen,” tutup Yephi. (*/pri)


