Tiga Warga Kotim Diduga Ikut Jadi Korban KMP Virgo Transport 8

Sampit, Kantamedia.com – Tiga warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diduga turut menjadi korban dalam insiden tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim langsung bergerak memastikan kebenaran informasi tersebut sekaligus menelusuri nasib para korban yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Dari informasi yang beredar di masyarakat, ketiga warga Kotim yang diduga berada di atas kapal nahas itu terdiri atas sepasang suami istri asal Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, serta seorang sopir warga Perumahan Sinar Fajar, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Ketiganya belum diketahui nasibnya hingga berita ini ditulis.

KMP Virgo Transport 8 sebelumnya diketahui mengangkut 243 penumpang dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal itu dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA di perairan Laut Jawa, dengan posisi terakhir tercatat sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.

Pemkab Kotim Masih Verifikasi Identitas Korban

Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan, pihaknya masih menunggu kepastian apakah tiga nama yang beredar tersebut benar merupakan warga Kotim asal Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. “Terkait itu kan kita masih mendengar dugaan. Kita belum tahu kejelasannya apakah benar yang bersangkutan warga Kotim, dari Kecamatan Mentaya Hilir Selatan,” ujarnya di Sampit, Senin (14/9/2026).

Irawati menyebut, Dinas Sosial Kotim telah diinstruksikan untuk menelusuri keberadaan keluarga dan memastikan identitas para korban. Pemerintah daerah juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan serta Badan SAR Nasional (Basarnas) guna mendukung proses pencarian sekaligus memantau perkembangan penanganan korban.

Dari informasi yang diterimanya, dua warga yang diduga pasangan suami istri itu disebut masih kerabat salah satu anggota DPRD Kotim. Meski demikian, Irawati menegaskan pemerintah daerah belum ingin buru-buru menyimpulkan nasib keduanya sebelum ada keterangan resmi dari tim pencarian.

“Kadang kan kita tidak tahu, terkadang tiket benar nama yang bersangkutan tapi apakah benar dia ikut di kapal itu? Jadi kita berdoa saat ini mudah-mudahan ada kabar baik,” katanya. Ia menambahkan, jika benar keduanya warga Kotim, pemerintah daerah akan berkoordinasi lebih intensif dengan Pemprov Kalsel terkait perkembangan pencarian.

Soal batas kewenangan daerah dalam penanganan musibah di perairan, Irawati menjelaskan bahwa Pemkab Kotim pada dasarnya hanya dapat memberikan dukungan lewat koordinasi dengan Basarnas. “Kalau batasan biasanya kan kita kerja sama dengan Basarnas. Dan kalau Basarnas itu biasanya 15 hari pencarian, apabila sudah lewat dari itu dia tidak akan melakukan pencarian lagi,” pungkasnya.

Keluarga Sempat Berkomunikasi Saat Kapal Miring

Dua warga yang diduga berada di dalam KMP Virgo Transport 8 diketahui bernama Helianto (55) dan Novika Liana (43). Keduanya merupakan warga asli Sampit yang masih memiliki usaha di Kotim, meski kini berdomisili di Surabaya.

Anak pasangan tersebut, Rico, membenarkan bahwa kedua orang tuanya ada dalam kapal yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin itu. Keduanya berencana singgah ke Sampit untuk menghadiri acara pernikahan keluarga. “Betul, ibu sama ayah dengan nama Helianto dan Novika Liana,” ungkap Rico.

Menurut Rico, komunikasi terakhir dengan sang ayah terjadi sekitar pukul 01.00 WIB atau 02.00 WITA. Saat itu, Helianto sempat mengabarkan bahwa kapal dalam kondisi miring sebelum akhirnya komunikasi terputus total. “Itu komunikasi terakhir dengan orang tua. Sampai sekarang belum ada komunikasi lagi,” tambahnya.

Kerabat korban yang juga Anggota DPRD Kotim, Wahito Fajriannor, mengungkapkan keluarga terus berupaya mencari informasi dari Basarnas dan pihak terkait lainnya. Hingga Senin (14/9/2026), nama Helianto dan Novika Liana belum tercantum dalam daftar korban yang ditemukan maupun dievakuasi.

“Kami tetap berupaya mencari keterangan dan mencari kejelasan dari pihak Basarnas yang memang saat ini bekerja keras mencari korban-korban lainnya. Sampai pagi ini keluarga kami masih belum ada,” tuturnya.

Wahito menjelaskan, kondisi darurat di kapal pertama kali diketahui keluarga setelah Helianto menghubungi kerabat sekitar pukul 02.00 WITA. Sekitar satu jam berselang, Novika Liana juga sempat menghubungi anak bungsunya dan meminta keluarga mendoakan keselamatan mereka. Sejak saat itu, keluarga membagi tugas untuk mencari informasi ke sejumlah lokasi, termasuk rumah sakit, guna memastikan keberadaan keduanya. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *