Waspada! Kasus Flu Singapura di Kotim Melonjak, Kenali Gejalanya

Sampit, Kantamedia.com – Penyebaran penyakit flu Singapura atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menunjukkan tren yang terus meningkat. Hingga pekan ke-24 tahun 2026, Dinas Kesehatan Kotim menemukan 66 kasus suspek, dengan lonjakan yang signifikan dalam beberapa minggu terakhir.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, dilansir detikcom memaparkan bahwa kasus pertama terdeteksi pada pekan ke-17. Sempat melandai, penularan kembali melonjak tajam pada pekan ke-23 dan ke-24.

“Hingga kini total kasus flu Singapura di Kotawaringin Timur tercatat sebanyak 66 kasus dengan tren peningkatan di beberapa pekan terakhir,” terang Nugroho, Jumat (26/6/2026).

Berdasarkan data berkala, fluktuasi sempat terjadi saat angka kasus naik dari 8 menjadi 10 pada pekan ke-19 dan ke-20, lalu turun menjadi 3 kasus saja pada pekan ke-21. Namun, grafik kembali naik ke angka 10, 14, hingga menyentuh 18 kasus baru dalam dua minggu belakangan.

Kecamatan Baamang menjadi wilayah dengan konsentrasi penularan tertinggi. Puskesmas Baamang 1 mendata 10 kasus dan Puskesmas Baamang 2 mencatat 18 kasus. Total terdapat 28 kasus di kecamatan tersebut, sementara sisanya tersebar di beberapa wilayah lain.

Nugroho mengimbau para orang tua agar melarang anak mereka beraktivitas di luar jika bergejala demi memutus rantai penularan di lingkungan sekolah atau tempat bermain.

“Pencegahan harus menjadi prioritas karena penyakit ini sangat mudah menular. Dengan kesadaran orang tua dan pengasuh, penyebarannya dapat dikendalikan. Kami akan terus memantau perkembangan kasus serta meningkatkan sosialisasi langkah-langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak,” jelasnya.

Gejala Flu Singapura

Penyakit flu Singapura dipicu oleh infeksi virus yang sangat menular melalui kontak cairan tubuh seperti air liur, percikan batuk atau bersin, peralatan makan bersama, hingga feses penderita. Masa inkubasi awal biasanya berlangsung 3 hingga 6 hari pasca-paparan dengan memunculkan tanda-tanda mirip influenza ringan seperti:

  • Demam, pilek, dan sakit kepala.
  • Penurunan nafsu makan dan sakit tenggorokan.
  • Tubuh terasa sangat lelah (malaise) dan anak menjadi rewel.
  • Sakit perut.

Fase gejala awal di atas umumnya mereda dalam 1 hingga 2 hari. Setelah itu, barulah muncul keluhan klinis yang khas dari penyakit HFMD ini, antara lain:

  • Sariawan yang perih pada gusi, lidah, serta bagian dalam pipi.
  • Ruam kemerahan yang gatal dan nyeri di telapak tangan, telapak kaki, siku, lutut, bokong, hingga alat kelamin.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di area leher.

Bintik merah pada kulit tersebut berpotensi membesar menjadi lentingan berisi cairan yang mudah pecah lalu mengering. Meski umumnya bersifat ringan dan bisa sembuh mandiri dalam kurun waktu 7 sampai 10 hari, kewaspadaan tetap diperlukan karena infeksi ini rentan memicu dehidrasi pada anak-anak. Ciri kesembuhan biasanya ditandai dengan mengeringnya luka lepuh, sariawan mereda, serta pulihnya energi dan nafsu makan anak. (*/pri)

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *