Bisnis Kuliner Ikut Dorong Kebutuhan Cabai Palangka Raya

PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Tingginya harga cabai di Kota Palangka Raya tidak sepenuhnya dapat dilihat dari konsumsi rumah tangga. Pemerintah daerah mencatat sektor hotel, restoran dan kafe (Horeka) turut menyerap cabai dalam jumlah besar sehingga gerakan menanam cabai di tingkat rumah tangga belum memberikan dampak besar terhadap dinamika harga pasar.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya, Yusianto, mengatakan struktur konsumsi cabai di Palangka Raya cukup beragam. Selain kebutuhan rumah tangga, permintaan dari usaha kuliner juga cukup besar.

“Artinya, dinamika harga tidak hanya dibentuk oleh kebutuhan rumah tangga. Kebutuhan dari industri rumah makan dan usaha kuliner juga besar. Bahkan kebutuhan sektor tersebut dapat melebihi kebutuhan rumah tangga,” kata Yusianto, Kamis (24/9/2026).

Ia mencontohkan berbagai usaha kuliner yang menggunakan cabai dalam jumlah besar, mulai dari ayam geprek, makanan pedas, bakmi dengan berbagai tingkat kepedasan hingga ikan bakar.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa gerakan menanam cabai di rumah belum mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap harga pasar secara keseluruhan.

Meski demikian, Yusianto menegaskan program penanaman cabai di tingkat masyarakat tetap diperlukan. Setidaknya, tanaman di pekarangan dapat mengurangi kebutuhan belanja cabai untuk konsumsi keluarga.

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi persoalan produksi. Kebutuhan lokal Palangka Raya saat ini baru mampu dipenuhi sekitar 13-15 persen, sedangkan sekitar 85 persen masih bergantung pada pasokan luar daerah.

Kondisi tersebut membuat harga cabai sangat bergantung pada situasi produksi di daerah pemasok. Ketika produksi di Kalimantan Selatan maupun Jawa turun, harga di Palangka Raya ikut terdorong.

Yusianto menilai kondisi saat ini merupakan akumulasi antara keterbatasan pasokan dan kebutuhan pasar, bukan semata-mata akibat tingginya permintaan.

“Jadi penyebabnya merupakan akumulasi. Kita tidak bisa hanya menyalahkan sisi pasokan ataupun permintaan. Keduanya berpengaruh,” ujarnya.

Karena itu, selain memperluas produksi lokal, pemerintah juga melihat perlunya alternatif dalam konsumsi dan pengolahan cabai. Salah satunya melalui pemanfaatan cabai kering dan penguatan teknologi pascapanen agar produk tetap dapat digunakan ketika pasokan cabai segar mengalami gangguan. (daw)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *