PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Inflasi tahunan Provinsi Kalimantan Tengah pada Oktober 2026 mencapai 5,19 persen. Kenaikan harga beras, ikan nila, bensin, dan cabai rawit menjadi sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi terhadap tekanan harga di wilayah tersebut.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, Toto Haryanto Silitonga, menyampaikan perkembangan tersebut dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Kalteng, Senin (2/11/2026).
Toto menjelaskan, selain inflasi tahunan sebesar 5,19 persen, Kalimantan Tengah juga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,68 persen. Sementara inflasi tahun kalender mencapai 3,91 persen.
“Tingkat inflasi bulanan (month-to-month atau m-to-m) dan inflasi tahun kalender (year-to-date atau y-to-d) Provinsi Kalimantan Tengah pada Oktober 2026 masing-masing sebesar 0,68 persen dan 3,91 persen,” ujar Toto dalam pemaparan BRS.
Berdasarkan data BPS, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 8,33 persen. Kelompok tersebut menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi umum dengan andil sebesar 3,25 persen.
Dari sisi komoditas, beras memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil 0,83 persen. Berikutnya ikan nila sebesar 0,43 persen, bensin 0,33 persen, cabai rawit 0,28 persen, emas perhiasan 0,22 persen, dan ikan patin 0,16 persen.
Sementara itu, pada perkembangan bulanan Oktober, daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar sebesar 0,15 persen. Disusul ikan nila 0,08 persen, ikan gabus 0,07 persen, serta cabai rawit 0,04 persen. Kacang panjang dan tomat masing-masing memberikan andil sebesar 0,03 persen.
Tekanan harga juga terjadi pada kelompok transportasi yang mengalami inflasi tahunan 6,29 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,80 persen. Adapun kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi 3,29 persen.
Jika dibandingkan antarwilayah, Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,87 persen, disusul Kabupaten Sukamara sebesar 5,60 persen. Kota Palangka Raya mengalami inflasi 4,89 persen, sedangkan Sampit tercatat paling rendah sebesar 4,72 persen.
Secara bulanan, seluruh wilayah pemantauan BPS di Kalimantan Tengah mengalami inflasi. Sampit mencatat kenaikan tertinggi sebesar 0,85 persen, sementara Kabupaten Kapuas terendah sebesar 0,56 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan inflasi di Kalimantan Tengah masih didominasi kelompok pangan. Besarnya kontribusi beras dan sejumlah komoditas perikanan serta hortikultura perlu menjadi perhatian dalam pengendalian harga, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat dan kestabilan pasokan menjelang akhir tahun. (daw)






