Inflasi Kalteng Tembus 5,02 Persen, Beras dan Emas Jadi Penyumbang

PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Inflasi tahunan di Kalimantan Tengah mencapai 5,02 persen pada September 2026. Kenaikan harga bahan pangan, emas perhiasan dan sejumlah komoditas transportasi menjadi bagian dari tekanan harga yang tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng.

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalteng, Muhammad Taufiqurrahman, menjelaskan inflasi year-on-year (y-on-y) tersebut membuat Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 108,08 pada September 2025 menjadi 113,51 pada September 2026.

“Pada September 2026, Provinsi Kalimantan Tengah mengalami inflasi tahunan year-on-year sebesar 5,02 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,51,” jelas Taufiqurrahman dalam keterangan BPS, Kamis (1/10/2026).

Berdasarkan pemantauan di empat kabupaten/kota, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas sebesar 6,00 persen dengan IHK 114,65. Sementara inflasi terendah tercatat di Sampit sebesar 4,21 persen dengan IHK 112,55.

Secara bulanan, inflasi Kalteng pada September mencapai 0,40 persen. Sementara inflasi tahun kalender, yakni akumulasi sejak Januari hingga September 2026, tercatat 3,21 persen.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 2,91 persen. Kelompok ini mengalami kenaikan harga sebesar 7,50 persen dibandingkan September tahun lalu.

Sejumlah komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain beras, emas perhiasan, ikan nila, bensin, cabai rawit, minyak goreng dan bahan bakar rumah tangga. Komoditas lain yang turut memberikan andil meliputi ikan patin, terong, solar, serta beberapa jenis rokok.

Selain pangan, kelompok transportasi mengalami kenaikan harga 6,27 persen dengan andil inflasi 0,60 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi berdasarkan persentase, yakni 8,18 persen, dengan andil inflasi 0,50 persen. Kenaikan pada kelompok ini antara lain berkaitan dengan komoditas emas perhiasan.

Meski sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi. BPS mencatat daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, angkutan udara dan bawang putih sebagai sejumlah komoditas yang memberikan andil deflasi tahunan.

Perkembangan harga pada September juga menunjukkan tekanan bulanan yang berbeda antarwilayah. Kabupaten Sukamara mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,03 persen, sedangkan Kabupaten Kapuas terendah, yakni 0,08 persen. Seluruh kabupaten/kota yang menjadi cakupan penghitungan IHK di Kalteng mengalami inflasi bulanan.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tekanan inflasi Kalteng meningkat. Pada September 2025, inflasi tahunan tercatat 2,08 persen, sedangkan inflasi bulanan sebesar 0,33 persen dan inflasi tahun kalender 1,35 persen.

Data tersebut menunjukkan kenaikan harga di Kalteng pada September 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pergerakan harga pangan, energi, transportasi dan emas menjadi sejumlah komponen yang perlu dicermati dalam pemantauan inflasi daerah. (daw)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *