Kabut Asap Mulai Ganggu Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut

PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Kabut asap yang melanda wilayah Palangka Raya mulai berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Tjilik Riwut. Meski demikian, hingga Kamis (20/8/2026), belum terdapat informasi mengenai pembatalan penerbangan akibat penurunan jarak pandang.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandar Udara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, mengatakan secara umum operasional penerbangan masih lion air

berjalan. Namun, kondisi jarak pandang yang fluktuatif akibat kabut asap telah berdampak terhadap sejumlah penerbangan.

“Secara umum operasional penerbangan di Bandara Tjilik Riwut masih berjalan. Namun, kondisi kabut asap yang menyebabkan penurunan jarak pandang memang berdampak terhadap beberapa penerbangan,” kata I Made Darmawan, Kamis (20/8/2026).

Ia menyebut pada Rabu (19/8/2026), penerbangan Super Air Jet IU 674 sempat melakukan go-around karena jarak pandang berada di bawah minimum operasional yang dipersyaratkan. Selain itu, beberapa penerbangan, termasuk Super Air Jet dan Wings Air, mengalami keterlambatan.

“Untuk pembatalan penerbangan akibat kondisi kabut asap, berdasarkan data monitoring kami sampai saat ini belum terdapat informasi pembatalan,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut dalam beberapa hari terakhir cukup fluktuatif. Pada periode tertentu, jarak pandang masih berada di kisaran 4 hingga 5 kilometer, tetapi dapat turun secara signifikan dalam kondisi tertentu.

Bahkan pada 19 Agustus 2026, jarak pandang sempat turun hingga sekitar 600 meter. Kondisi tersebut kemudian memberikan dampak terhadap operasional penerbangan di bandara.

I Made menjelaskan, batas operasional penerbangan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu angka jarak pandang secara umum. Setiap penerbangan memiliki ketentuan minimum operasional yang berbeda dengan mempertimbangkan jenis pesawat, prosedur pendekatan, fasilitas navigasi, serta kondisi aktual di lapangan.

Apabila jarak pandang berada di bawah minimum yang dipersyaratkan, sejumlah penyesuaian operasional dapat dilakukan. Di antaranya menunda keberangkatan atau kedatangan, menunggu kondisi membaik, melakukan go-around, maupun tindakan operasional lainnya sesuai prosedur dan keputusan pilot serta pihak terkait.

Dari sisi bandara, pihaknya terus melakukan pemantauan kondisi cuaca dan jarak pandang secara berkala. Kesiapan fasilitas operasional juga dipastikan, disertai penguatan koordinasi dengan Air Traffic Control (ATC), BMKG, maskapai penerbangan dan seluruh pemangku kepentingan terkait.

“Kami terus menginformasikan perkembangan kondisi kepada pihak-pihak terkait agar setiap keputusan operasional dapat dilakukan secara tepat dan terukur,” katanya.

Ia menegaskan keselamatan dan keamanan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional. Karena itu, penyesuaian penerbangan akan dilakukan berdasarkan kondisi aktual dan ketentuan keselamatan penerbangan yang berlaku.

“Kami memahami bahwa kondisi seperti ini dapat memengaruhi kenyamanan dan ketepatan waktu perjalanan penumpang. Namun demikian, setiap keputusan operasional penerbangan tetap mengacu pada kondisi aktual di lapangan, prosedur keselamatan, serta keputusan dari pihak-pihak yang berwenang,” pungkasnya. (daw)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *