PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melakukan perbaikan dan validasi data laporan kesehatan selama status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) periode 10–23 Agustus 2026. Hasil verifikasi menunjukkan terdapat ribuan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang tercatat di 14 kabupaten/kota.
Berdasarkan data hasil verifikasi seluruh kabupaten/kota dan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), tercatat 3.874 kasus ISPA pada periode 10–16 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 41 pasien menjalani rawat inap dan tidak terdapat pasien yang dirujuk.
Sementara pada periode 17–23 Agustus 2026, tercatat 3.734 kasus ISPA, dengan 50 pasien menjalani rawat inap dan tidak ada kasus rujukan. Dengan demikian, secara kumulatif terdapat 7.608 kasus ISPA sepanjang periode 10–23 Agustus berdasarkan data yang telah diverifikasi.
Pada periode 17–23 Agustus, Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 695 kasus. Selanjutnya Kotawaringin Timur 435 kasus, Kotawaringin Barat 427 kasus, Barito Timur 369 kasus, Barito Selatan 318 kasus dan Kapuas 295 kasus.
Daerah lainnya meliputi Barito Utara sebanyak 266 kasus, Seruyan 200 kasus, Pulang Pisau 192 kasus, Gunung Mas 175 kasus, Murung Raya 155 kasus, Katingan 89 kasus, Lamandau 81 kasus dan Sukamara 45 kasus.
Data harian menunjukkan kasus ISPA mencapai titik tertinggi pada 18 Agustus dengan 831 kasus, disusul 10 Agustus sebanyak 813 kasus dan 19 Agustus 743 kasus. Sementara penurunan pada 16, 17 dan 23 Agustus disebut berkaitan dengan hari Minggu atau libur, sehingga kelengkapan pelaporan perlu menjadi perhatian.
Dari sisi kualitas udara pada 23 Agustus, kondisi sangat tidak sehat tercatat di Gunung Mas dengan indeks AQI 227, Murung Raya 211 dan Katingan 205. Barito Selatan, Kotawaringin Timur, Barito Utara dan Lamandau berada pada kategori tidak sehat, sementara Palangka Raya dan Pulang Pisau berada pada kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif.
Pemerintah juga menjalankan pelayanan kesehatan melalui posko kesehatan Dinas Kesehatan dan posko terpadu BPBD. Puskesmas dan Pustu tetap menjadi titik pelayanan utama, didukung layanan Mobile TGC/PCC dan layanan on call 24 jam di sejumlah kabupaten/kota. Pelayanan mencakup pemeriksaan, pengobatan, pemantauan ISPA, penyuluhan hingga pembagian masker.
Hingga 23 Agustus 2026, sebanyak 234 personel dikerahkan untuk mendukung pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Personel terdiri dari dokter, perawat, bidan dan tenaga surveilans, dengan perawat menjadi tenaga yang paling banyak diturunkan.
Di sisi lain, pemerintah masih menghadapi kebutuhan logistik yang tinggi, terutama masker, vitamin, obat-obatan ISPA dan oksigen. Ketersediaan logistik juga belum merata sesuai kebutuhan masing-masing wilayah, sementara pelaporan kasus masih perlu diperkuat agar lebih lengkap dan tepat waktu.
Sebagai tindak lanjut, Pemprov Kalteng akan meningkatkan pemantauan kasus ISPA, memperkuat pelayanan puskesmas dan rumah sakit, memastikan ketersediaan masker, obat, vitamin serta oksigen, dan mengoptimalkan posko kesehatan serta PSC. Koordinasi lintas sektor juga akan diperkuat untuk menentukan wilayah yang menjadi prioritas penanganan. (daw)


