Palangka Raya, Kantamedia.com – Kehadiran transportasi berbasis aplikasi dinilai memberi dampak signifikan terhadap keberlangsungan angkutan konvensional di Kalimantan Tengah. Ketua DPD Organda Kalteng, Ducun Helduk Umar, mengungkapkan hal tersebut saat membahas dinamika persaingan moda transportasi darat, Jumat (16/1/2026).
Menurut Ducun, angkutan konvensional kian tertekan seiring meningkatnya preferensi masyarakat terhadap layanan online yang dinilai lebih mudah diakses, cepat, dan fleksibel. Namun, ia menyoroti kesejahteraan pengemudi yang tergerus potongan aplikasi hingga 30–35 persen dari pendapatan.
“Yang kaya aplikatornya, sopirnya tinggal sisa,” ujarnya.
Ia menilai ketimpangan ini diperparah oleh regulasi yang belum berimbang. Angkutan konvensional diwajibkan memenuhi izin, trayek, serta standar operasional yang ketat, sementara layanan online dinilai lebih longgar dalam praktik di lapangan.
Meski sebagian angkutan konvensional masih bertahan berkat pelanggan tetap dan jaringan informal, Ducun menegaskan tanpa regulasi yang adil, persaingan akan terus timpang dan berpotensi mematikan angkutan konvensional secara perlahan.
Organda pun mendorong pemerintah segera merumuskan kebijakan yang tidak hanya mendukung inovasi teknologi, tetapi juga melindungi pengemudi serta pelaku usaha transportasi darat yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat. (Daw).


