Palangka Raya, Kantamedia.com – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah kini menemui kendala serius lantaran sebagian dari total 8.334 unit sumur bor penyuplai air yang disiagakan di lapangan mulai mengering.
Menanggapi krisis pasokan air tersebut, Satuan Tugas Gabungan mengambil langkah cepat dengan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melalui penyemaian satu ton garam untuk merangsang pembentukan awan hujan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BP-BPK) Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengungkapkan bahwasanya banyak titik sumur bor yang mengalami kerusakan teknis serta kehabisan debit air akibat dibiarkan tidak aktif dalam jangka waktu lama.
Guna mengatasi keterbatasan sumber air di area rawan, pemerintah daerah mengambil tindakan taktis dengan membuat infrastruktur air baru di berbagai lokasi krusial.
“Karena sudah lama tidak difungsikan, sebagian besar permasalahan utamanya adalah sumur sudah kering. Di tengah persoalan tersebut, pemerintah tetap membangun sumur bor baru di sejumlah lokasi strategis. Anggaran yang disiapkan berkisar Rp25 juta hingga Rp30 juta untuk satu sumur,” terang Toyib pada Jumat (14/8/2026).
Fokus perhatian kini tertuju pada wilayah Kameloh Baru serta Tumbang Nusa. Kedua daerah ini dikenal memiliki tingkat kerawanan karhutla yang sangat tinggi, meskipun sebetulnya telah dipasangi instalasi penyedot air dalam jumlah cukup besar.
Berdasarkan data BP-BPK Kalteng, sebaran infrastruktur penunjang air tersebut terdistribusi di sejumlah kabupaten dan kota, antara lain:
- Pulang Pisau: 5.638 unit
- Kapuas: 1.107 unit
- Barito Selatan: 454 unit
- Katingan: 375 unit
- Kotawaringin Timur: 359 unit
- Palangka Raya: 276 unit
- Sukamara: 75 unit
- Kotawaringin Barat: 50 unit
Toyib menegaskan, penanganan di lapangan diprioritaskan pada lokasi kebakaran yang posisinya sudah membahayakan lingkungan warga sekitar.
“Prioritas utama kami adalah mencegah api meluas ke kawasan permukiman maupun wilayah yang memiliki potensi terdampak lebih besar,” tegasnya.
Di Kota Palangka Raya, kobaran api terdeteksi menjalar di Kecamatan Jekan Raya dan Kelurahan Bukit Tunggal, khususnya di sekitar Jalan Tegal Sari, Jalan Gurame, serta kawasan Rungan. Sementara itu, amukan api terparah melalap Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yakni di kawasan Baamang Hulu yang menghanguskan sekitar 28 hektare lahan, serta area Jalan Tjilik Riwut Km 7 seluas 15 hektare.
Sebagai bentuk penanganan darurat di wilayah Kotim, penyemaian bahan kimia penyubur awan telah dieksekusi demi memancing turunnya hujan buatan.
“Sebanyak 1.000 kilogram garam telah disemai di wilayah Kotim untuk memancing pertumbuhan awan hujan. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan curah hujan di wilayah yang membutuhkan,” ungkap Toyib.
Selain jalur darat dan modifikasi cuaca, armada helikopter water bombing turut diterjunkan guna menjangkau lokasi kebakaran di pedalaman yang sukar ditembus, seperti Sebangau Kuala dan Petuk Katimpun. Hembusan angin kencang ke arah barat laut saat ini mulai membawa dampak buruk berupa paparan kabut asap. Di kawasan Buntok dan Muara Teweh, jarak pandang dilaporkan mulai terganggu dan menyusut hingga tersisa 5 sampai 7 kilometer. (pri)


